Pernahkah Anda memiliki buku harian dengan gembok mungil? Bagi generasi 1990-an hingga awal 2000-an, benda itu adalah ruang aman untuk menyimpan cerita paling jujur.

Kuncinya disembunyikan di bawah kasur atau dikalungkan ke leher. Ketakutan terbesar saat itu adalah jika ada orang lain membaca isinya.

>>> Bareskrim Tetapkan Lima Tersangka Kasus Emas Ilegal Pemurnian

Kini, kecemasan itu berbalik. Di era media sosial, yang ditakutkan justru tidak ada yang membaca, menyukai, atau merespons unggahan kita.

Linimasa dipenuhi utas panjang penuh emosi di X, foto personal di Instagram, hingga video curhat di TikTok. Konsep privasi pun bergeser.

Dari Monolog Sunyi ke Ruang Validasi

Dahulu, menulis di buku harian adalah monolog internal yang intim. Kita menulis untuk memahami diri sendiri tanpa takut dihakimi.

Kini, ketika seseorang membagikan cerita kegagalan di media sosial, ada harapan akan respons. Notifikasi menjadi bagian dari pengalaman emosional.

Balasan seperti “Semangat ya!” atau emoji pelukan memberi rasa lega instan.

Rasa didengar dan diperhatikan menjadi kebutuhan yang terus dicari.

Privasi yang dulu terasa nyaman, kini bagi sebagian orang justru terasa sepi.

Namun, perubahan ini tidak sepenuhnya negatif. Media sosial membuka percakapan tentang kesehatan mental yang dulu dianggap tabu.

>>> Son Heung-min Cetak Sejarah Tampil di Empat Edisi Piala Dunia

Berbagi pengalaman tentang kegagalan atau trauma kini lebih diterima. Banyak orang merasa tidak lagi sendirian.

Antara Ekspresi dan Kurasi

Media sosial mendorong kita menjadi sutradara atas kehidupan sendiri. Setiap momen, bahkan kesedihan, bisa dikemas menjadi konten yang estetik.

Fitur seperti Close Friends atau akun privat mungkin menyerupai buku harian, tetapi ruang digital tetap melibatkan audiens. Ada kemungkinan tangkapan layar atau penyebaran ulang.

Perbedaan mendasar terletak pada siapa yang memegang kunci. Pada buku harian bergembok, kunci itu milik kita seorang diri.

Di ruang digital, kunci dibagi meski hanya ke lingkaran kecil.

Hilangnya tradisi menulis di buku harian fisik mungkin bukan sekadar perubahan medium, melainkan perubahan cara kita berdialog dengan diri sendiri.

Di tengah arus informasi yang tak pernah berhenti, momen hening menjadi langka. Barangkali, kita perlu kembali menciptakan ruang yang tidak terhubung dengan notifikasi.

Tidak semua cerita perlu dipublikasikan.

>>> Bank Rakyat Indonesia Siapkan Rp 500 Miliar untuk Buyback Saham

Ada pengalaman, luka, dan kebahagiaan yang mungkin lebih bermakna ketika disimpan dalam ruang yang hanya diketahui oleh diri sendiri dan Tuhan.