Seorang guru memutuskan untuk kembali ke metode penilaian lisan setelah merasa hasil penilaian daring tidak mencerminkan kemampuan siswa yang sebenarnya.

Keputusan ini diambil setelah ia menemukan bahwa siswa yang biasanya kurang serius justru mendapat nilai sempurna dalam waktu singkat pada soal berbasis HOTS.

>>> PT Timah Tbk Alokasikan Laba Ditahan Rp658 Miliar untuk Pacu Produksi

Penilaian lisan dinilai lebih autentik karena siswa harus menjawab langsung tanpa kesempatan menebak atau bergantung pada bantuan luar.

Meskipun memakan waktu lebih lama, metode ini memberikan gambaran pemahaman yang lebih nyata.

Dalam tiga jam pelajaran, guru hanya bisa menilai sekitar separuh dari 36 siswa, sehingga diperlukan dua pertemuan untuk menyelesaikan penilaian.

Hasilnya bervariasi dari 0 hingga 100, namun angka-angka itu terasa lebih merefleksikan pemahaman siswa.

Beberapa siswa tampak tersentuh ketika menyadari kurangnya persiapan mereka, menunjukkan bahwa penilaian juga menjadi sarana refleksi.

>>> Mengenal Ciri People Pleaser yang Sering Mengorbankan Diri Sendiri

Fondasi Analitis melalui Hafalan

Penilaian lisan yang diterapkan bertumpu pada ingatan atau hafalan sebagai fondasi awal pemahaman.

Meskipun hafalan sering dianggap kuno, guru ini menekankan bahwa mengingat adalah pintu awal untuk memahami.

Pada masa sekolah dasar di tahun 1990-an, hafalan perkalian, Pancasila, dan UUD 1945 adalah hal lumrah.

Kini praktik tersebut semakin jarang, padahal kemampuan analitis dibangun di atas pengetahuan yang tersimpan kuat dalam ingatan.

Tanpa fondasi yang kokoh, analisis menjadi rapuh. Contohnya, siswa kesulitan melakukan operasi hitung dasar atau tidak mengetahui informasi geografis sederhana.

>>> DPR Desak Audit Total Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi

Guru ini mengingatkan agar pendidik tidak terlalu cepat meninggalkan fondasi yang menopang kualitas literasi dan numerasi.