Keinginan untuk selalu mengiyakan permintaan orang lain sering kali membuat seseorang mengorbankan kepentingannya sendiri. Perilaku ini dikenal dengan istilah people pleaser.

Orang dengan kepribadian ini umumnya merasa kesulitan menolak ajakan atau permintaan bantuan. Mereka didorong oleh rasa takut mengecewakan, ditolak, atau dinilai negatif oleh lingkungan.

>>> DPR Desak Audit Total Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi

Salah satu pola yang sering dialami adalah tetap memaksakan diri membantu orang lain meskipun kondisi pribadi tidak memungkinkan.

Contohnya meminjamkan uang saat keuangan terbatas atau menerima tambahan tugas kantor di tengah beban kerja yang menumpuk.

Siklus mengiyakan permintaan ini terus berulang meskipun muncul rasa kecewa. Akibatnya, kelelahan mental pun tidak terhindarkan.

Selain itu, seorang people pleaser cenderung menghindari konflik dengan cara memilih diam atau selalu sepakat dengan opini orang lain.

Mereka menahan pendapat pribadi demi menjaga kenyamanan suasana.

Sikap selalu mengalah tersebut sekilas tampak baik. Namun, jika terus dilakukan bisa menghilangkan keberanian seseorang dalam menyampaikan pandangannya.

Kecenderungan ini juga membuka celah bagi orang lain untuk memanfaatkan situasi. Menjadi tegas bukan berarti berubah menjadi pribadi yang cuek atau egois.

Kemampuan menetapkan batasan justru merupakan bentuk penghargaan terhadap diri sendiri. Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan.

>>> Diundang Kawinan Mantan, Datang atau Tidak? Ini Kata Kompasianer

Cara Mengatasi Kebiasaan People Pleaser

Pertama, berani berkata tidak. Menolak permintaan orang lain bukanlah tindakan yang salah.

Jika kondisi keuangan atau tumpukan pekerjaan tidak memungkinkan, penolakan yang disampaikan secara sopan dan jelas adalah hal yang wajar.

Kedua, menyadari keterbatasan diri. Setiap orang perlu memahami bahwa mereka tidak bisa menyenangkan semua orang.