Depresi sering disalahartikan sebagai kesedihan mendalam atau tangisan. Padahal, gangguan kesehatan mental ini bisa muncul dalam bentuk gejala fisik dan perubahan perilaku yang tidak terduga.

Banyak orang tidak menyadari bahwa mereka mengalami depresi karena gejalanya tidak selalu khas.

>>> Vivo X300 E Resmi: Layar 144Hz, Snapdragon 8 Gen 5, Baterai 7200mAh

Richard Kravitz, profesor penyakit dalam di Universitas California, Davis, mengatakan bahwa pasien kerap enggan menghubungkan keluhan fisik dengan depresi akibat stigma.

Berikut sembilan tanda halus depresi yang perlu diwaspadai, seperti dilansir Prevention pada Senin (27/7/2026).

Gejala Fisik yang Sering Disalahartikan

Nyeri kronis yang tak kunjung sembuh bisa menjadi indikasi depresi. Depresi dan rasa sakit berbagi jalur biologis dan neurotransmiter yang sama.

Sebuah studi dalam jurnal Pain menemukan bahwa 56% orang dengan depresi atau kecemasan juga mengalami nyeri kronis.

Dr. Kravitz menjelaskan bahwa kondisi mental negatif membuat seseorang merasakan ketidaknyamanan tubuh lebih tajam.

>>> POCO M8 Power 5G Resmi Meluncur di India pada 4 Agustus, Baterai 8.000 mAh Jadi Andalan

Perubahan berat badan juga patut dicurigai. Depresi dapat memicu kenaikan berat badan atau obesitas, namun sebagian orang justru kehilangan nafsu makan drastis.

Gangguan tidur ekstrem, baik insomnia maupun hipersomnia, juga terkait erat dengan depresi. Penelitian dalam Journal of Affective Disorders mengonfirmasi kedua kondisi tersebut sama-sama berbahaya.

Perubahan Perilaku dan Emosi

Kemarahan meluap akibat hal sepele bisa menjadi lampu kuning.

Simon Rego, profesor psikiatri klinis di Albert Einstein College of Medicine, mengatakan bahwa fase mental negatif memudahkan akses emosi buruk seperti iritabilitas dan frustrasi.

Perasaan hampa seperti 'zombie' juga ciri khas depresi.