Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM KM UGM) 2025, Tiyo Ardianto, mengaku menolak tawaran suap senilai miliaran rupiah.

Tawaran itu datang dari pihak yang mengatasnamakan lembaga berbintang di tengah aksi kritiknya terhadap pemerintah pada Juni 2026.

>>> BIN dan Polda Metro Jaya Kawal Aksi Mahasiswa di Jakarta

Penolakan tersebut dilakukan Tiyo untuk menjaga integritas gerakan mahasiswa yang dipimpinnya.

Langkah ini mencuat saat gerakan mahasiswa rentan menghadapi kooptasi berupa iming-iming materi dan posisi nyaman.

Hal itu berisiko memicu ketidakpercayaan publik terhadap gerakan moral mahasiswa secara keseluruhan.

Kritik Terhadap Program Pemerintah

Tiyo, mahasiswa S1 Filsafat angkatan 2021 asal Kudus, belakangan ini mendapat sorotan luas.

Ia vokal mengkritisi program Makanan Bergizi Gratis (MBG) serta menyurati UNICEF terkait kasus bunuh diri seorang siswa di NTT akibat tidak mampu membeli perlengkapan sekolah.

Kritik BEM UGM terhadap program MBG juga bergulir di tengah persoalan hukum nasional, seperti penangkapan mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) RI beserta wakilnya oleh Kejaksaan Agung terkait kasus korupsi.

>>> Harga Bitcoin Tembus US$ 63.400 Usai Trump Batalkan Serangan ke Iran

Akibat sikap kritisnya, Tiyo menghadapi berbagai intimidasi digital berupa peretasan, ancaman penculikan, hingga tudingan sebagai antek asing.

Gelombang kritik dari kampus ini turut menuai tanggapan dari berbagai pihak, termasuk sejumlah ulasan di Kompasiana.

Ulasan tersebut menilai politik kampus berisiko menjadi panggung pencitraan pribadi dan batu loncatan karier politik praktis.

Fenomena pergeseran mantan aktivis kampus ke lingkaran kekuasaan tercatat pada deretan mantan ketua BEM yang kini menjadi pengurus partai politik, anggota DPRD, hingga komisaris BUMN.

Tiyo menegaskan komitmennya untuk tetap menjaga kemurnian suara mahasiswa dari intervensi luar.

>>> Telkomsel Raih Dua Penghargaan di Twimbit Telecom Awards 2026

Sikap konsisten ini menjadi ujian penting bagi gerakan mahasiswa dalam mempertahankan idealisme di tengah bayang-bayang pragmatisme politik.