Pemerintah Provinsi Jawa Barat secara resmi menetapkan Tongseng Battembat sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) tahun 2026.

Hidangan khas dari Desa Battembat, Kecamatan Tengah Tani, Kabupaten Cirebon ini memiliki akar sejarah yang kuat dalam kehidupan masyarakat lokal.

>>> DJP Tegaskan Aturan Pajak Kreator Digital Tidak Berubah

Kawasan Battembat sejak lama dikenal sebagai pusat perdagangan dan lokasi penyembelihan sapi utama di wilayah Cirebon.

Tokoh budaya Cirebon, Chaidir S. Susilaningrat, menilai penetapan ini sangat beralasan karena kuliner tersebut lahir dari dinamika ekonomi lokal.

"Tongseng Battembat itu memang kuliner khas yang sudah lama dikenal masyarakat, terutama di daerah Battembat yang dulu masuk wilayah Cirebon Barat.

Daerah itu sejak dulu menjadi pusat penyembelihan sapi, banyak jagal sapi di sana," ucap Chaidir.

Kreativitas warga dalam mengolah sisa potongan daging menjadi awal mula terciptanya hidangan berkuah kaya rempah ini.

Masyarakat setempat memanfaatkan bagian daging non-premium yang tidak digunakan untuk hidangan utama seperti bistik untuk diolah menjadi sajian lezat.

Langkah cerdas ini mengubah bahan makanan sederhana menjadi produk kuliner yang digemari lintas generasi sekaligus bernilai ekonomi tinggi.

Sejarah dan Akulturasi Budaya

Meski kuliner tongseng secara umum sering dikaitkan dengan wilayah Solo atau Boyolali di Jawa Tengah, versi Battembat menempuh jalur sejarah berbeda.

"Kalau bicara sejarah gastronomi Indonesia, memang tongseng lebih dikenal sebagai makanan khas Jawa Tengah. Tapi faktanya Cirebon juga memiliki Tongseng Battembat yang sudah lama berkembang.

Ini menunjukkan bahwa masyarakat Cirebon juga memiliki tradisi kuliner tongseng yang khas," ujar Chaidir.

Kehadiran kuliner ini juga dipengaruhi oleh kedatangan para pedagang Arab di kota pelabuhan Cirebon yang membawa kebiasaan mengonsumsi daging.