Wilayah Xinjiang di barat laut China dan sekitarnya diminta bersiap menghadapi potensi banjir ekstrem pada musim panas ini.

Kondisi tersebut dipicu oleh lonjakan suhu yang sangat tinggi, curah hujan lebat, serta percepatan pencairan gletser.

>>> Meksiko dan Korea Selatan Raih Kemenangan Perdana di Grup A Piala Dunia 2026

Gurun Taklamakan, gurun terbesar di China, telah mengalami banjir pertama pada awal Juni tahun ini.

Rekaman dari stasiun televisi pemerintah CCTV memperlihatkan air yang menggenangi kawasan bukit pasir yang biasanya gersang, seperti dikutip dari Reuters pada Jumat (12/6/2026).

Fenomena serupa sebenarnya telah melanda Gurun Taklamakan sejak tahun 2021.

Namun, banjir tersebut biasanya baru terjadi pada bulan Agustus saat suhu udara mencapai puncaknya, sementara tahun ini kenaikan suhu berlangsung jauh lebih awal.

Data dari Reuters Climate Monitor menunjukkan bahwa pada 12 Juni, suhu di Xinjiang melonjak hingga 38 derajat Celcius atau 100 derajat Fahrenheit.

Angka tersebut tercatat 7,3 derajat lebih panas dibandingkan dengan rata-rata suhu berkala pada tahun-tahun sebelumnya.

Selain faktor suhu, intensitas hujan di Xinjiang bagian barat dan selatan juga dilaporkan meningkat belakangan ini.

>>> Iran Tutup Selat Hormuz dan Peringatkan Kapal yang Melintas

Laporan CCTV menyebutkan curah hujan di sejumlah area bahkan melesat hingga dua atau tiga kali lipat dari rata-rata historis awal Juni.

Perpaduan antara cuaca panas dan hujan lebat berintensitas tinggi ini menjadi pemicu utama banjir di kawasan gurun.

Sebagian besar lapisan salju dan gletser di Pegunungan Tianshan serta Kunlun mencair, lalu mengalirkan limpasan air dalam volume besar ke Sungai Tarim yang merupakan jalur air pedalaman terpanjang di China.