Penanganan limbah plastik masih menjadi tantangan lingkungan global, termasuk di Indonesia.

Hal ini mendorong pengembangan teknologi untuk mengolah sampah plastik menjadi produk yang bernilai guna, seperti bahan bakar cair.

>>> PT Delta Giri Wacana Tbk Bagikan Dividen Tunai Rp88,23 Miliar

Berdasarkan data UNEP, volume limbah plastik yang masuk ke ekosistem perairan dunia setiap hari setara dengan sekitar 2.000 truk sampah.

Dalam setahun, pencemaran plastik di perairan global diperkirakan mencapai 19 hingga 23 juta ton.

Di Indonesia, timbunan sampah plastik pada 2025 diproyeksikan mencapai 12,4 juta ton per tahun. Artinya, masyarakat memproduksi sekitar 28.000 ton limbah plastik setiap hari.

Pakar IPB University, Dr Leopold Oscar, memaparkan bahwa sampah plastik dapat diolah menjadi bahan bakar cair melalui teknologi pirolisis.

Proses ini melibatkan penguraian termokimia material pada suhu tinggi dengan oksigen sangat minim.

"Plastik seperti polyethylene (PE) dan polypropylene (PP) cenderung menghasilkan senyawa hidrokarbon yang lebih sesuai untuk bahan bakar," ujarnya, dikutip dari laman IPB University.

Melalui pirolisis, polimer plastik terurai menjadi fase gas, cairan, dan residu padat. Fase cair inilah yang berpotensi digunakan sebagai bahan bakar.

Leopold menjelaskan bahwa sifat dan mutu minyak hasil pirolisis sangat bergantung pada jenis plastik yang digunakan. Tidak semua limbah plastik dapat dikonversi secara optimal.

Jenis plastik seperti PET dan PVC dinilai kurang sesuai karena dapat memicu emisi senyawa korosif dan menimbulkan masalah lingkungan baru.

>>> Pemerintah Yakin Kenaikan Harga Pertamax Tak Picu Migrasi Massal ke Pertalite

Mutu produk cair juga dipengaruhi oleh suhu operasi, mekanisme pemanasan, penambahan katalis, dan perlakuan awal bahan baku.