Para ilmuwan menerapkan sejumlah teknik khusus untuk mencapai hasil tersebut. Mereka menggunakan pemanasan tambahan melalui metode Electron Cyclotron Resonance Heating (ECRH).

Peneliti juga mengatur jumlah gas awal secara presisi lewat teknik pre-charged synergistic start-up. Pendekatan tersebut membantu menjaga stabilitas di area tepi plasma yang paling rentan gangguan.

Lingkungan operasi EAST yang menggunakan dinding logam penuh turut dimanfaatkan untuk mengurangi pelepasan partikel pengotor. Selain itu, kondisi target plate dikendalikan guna meminimalkan gangguan material dinding.

Pencapaian ini didukung model teoritis baru bernama Plasma-Wall Interaction Self-Organisation (PWSO).

Model buatan Institute of Plasma Physics di Chinese Academy of Sciences ini menjelaskan interaksi plasma dan dinding reaktor.

Melalui pendekatan PWSO, plasma EAST berhasil diarahkan ke kondisi baru bernama density-free region atau wilayah bebas kepadatan. Langkah ini memberikan implikasi besar bagi masa depan energi fusi.

Potensi Lonjakan Energi Masa Depan

Jika reaktor dapat beroperasi pada kepadatan 1,3 kali lebih tinggi, laju reaksi fusi berpotensi melonjak melampaui 30 persen.

Pada tingkat 1,65 kali batas Greenwald, peningkatan energi bahkan mampu mencapai beberapa kali lipat.

Artinya, reaktor masa depan berpotensi memproduksi energi lebih besar tanpa harus memperbesar ukuran perangkat. Suhu operasi juga tidak perlu ditingkatkan secara drastis.

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa pencapaian ini belum menandakan pembangkit listrik tenaga fusi siap dibangun dalam waktu dekat.

Masih banyak tantangan besar yang harus diselesaikan oleh tim ahli.

Tantangan tersebut meliputi kemampuan plasma menyimpan panas dalam waktu lama dan ketahanan material dinding reaktor terhadap kondisi ekstrem.

>>> Michael Carrick Rombak Lini Tengah Manchester United, Mainoo Jadi Andalan

Hasil penelitian kolaboratif ini telah dipublikasikan dalam jurnal Science Advances.