Nilai tukar rupiah ditutup melemah 44 poin ke level Rp 17.988 per dolar AS pada perdagangan Kamis (11/6/2026).

Posisi sebelumnya berada di Rp 17.944 per dolar AS.

>>> Kementerian ATR/BPN Usul Tambahan Anggaran Rp3,23 Triliun untuk 2027

Pelemahan ini dipicu oleh sentimen negatif dari dalam dan luar negeri.

Dari dalam negeri, Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memproyeksikan defisit APBN 2026 Indonesia berpotensi melebar hingga 3 persen dari PDB.

Ambang batas tersebut merupakan maksimal aturan fiskal yang berlaku di Indonesia. Sementara dari eksternal, ketegangan geopolitik di Timur Tengah ikut menekan mata uang garuda.

Blokade Iran dan Inflasi AS

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menyatakan langkah militer Iran yang menutup Selat Hormuz bagi kapal tanker minyak dan komersial berdampak pada pasar uang.

Blokade tersebut telah berlangsung berbulan-bulan dan membuat harga minyak tetap tinggi.

Tekanan terhadap rupiah semakin bertambah setelah laporan tingkat harga konsumen AS naik 4,2 persen pada Mei dibandingkan tahun lalu.

>>> Said Iqbal Usulkan Revisi Permenaker untuk Batasi Pekerja Alih Daya

Lonjakan inflasi tercepat dalam tiga tahun terakhir itu dipicu oleh pembengkakan ongkos energi.

Ibrahim menambahkan, laporan inflasi memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Bahkan, The Fed dapat melanjutkan pengetatan kebijakan moneter akhir tahun ini jika tekanan harga berlanjut.

Kondisi ini membuat pelaku pasar cenderung waspada dan menahan diri.

Saat ini, pergerakan nilai tukar global masih menanti rilis indikator perekonomian terbaru dari AS untuk membaca arah kebijakan moneter selanjutnya.

>>> Piala Dunia 2026: Meksiko vs Afrika Selatan di Laga Pembuka

Investor kini menunggu data harga produsen AS yang akan dirilis Kamis ini untuk petunjuk lebih lanjut tentang prospek inflasi dan jalur kebijakan The Fed.