Siklus pergantian perangkat elektronik yang semakin cepat menghadirkan tantangan baru bagi industri gadget, yakni pengelolaan limbah elektronik (e-waste).

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu keberlanjutan, ekonomi sirkular mulai dipandang sebagai pendekatan yang dapat memperpanjang siklus hidup perangkat elektronik sekaligus mengurangi potensi limbah.

>>> Bocoran Gameplay Resident Evil Veronica: Perspektif Orang Ketiga Mirip RE 2 Remake

Salah satu implementasinya adalah melalui program trade-in, yang memungkinkan perangkat lama kembali masuk ke dalam rantai pemanfaatan yang lebih terstruktur.

Pendekatan ini juga mulai mendapat perhatian investor seiring berkembangnya praktik investasi berkelanjutan.

Relevansi Ekonomi Sirkular dalam Investasi

Menurut Wawan Hendrayana, analis capital market dan Vice President Infovesta Utama, meski belum menjadi kewajiban dalam penilaian investasi, ekonomi sirkular mulai memiliki relevansi dalam pembahasan ESG.

"Regulator terus mendorong investasi berkelanjutan dan berwawasan lingkungan, di mana ESG menjadi salah satu faktor yang diperhatikan.

Memang saat ini belum ada standar baku dalam menilai ESG suatu investasi, namun ekonomi sirkular dapat menjadi salah satu aspek yang dinilai," ujar Wawan, Kamis (11/6/2026).

Kesadaran terhadap pengelolaan limbah elektronik juga mulai tercermin dalam berbagai inisiatif yang dijalankan pelaku industri.

Salah satunya PT Erajaya Swasembada Tbk (IDX: ERAA), yang dalam laporan keberlanjutan terbarunya menempatkan pengelolaan limbah elektronik sebagai salah satu fokus perusahaan.

Sepanjang 2025, Erajaya berhasil mengumpulkan dan mendaur ulang 3.911 unit limbah elektronik yang berkontribusi terhadap potensi pengurangan emisi hingga 437 ton CO2e per tahun serta penghematan energi sebesar 301.261 kWh.

Perusahaan juga menjalankan berbagai program konservasi lingkungan, termasuk penanaman dan perawatan 7.486 pohon di area konservasi seluas 16 hektar di Bogor dan Bandung.