Menurut Wawan, semakin luas adopsi program keberlanjutan oleh dunia usaha berpotensi meningkatkan perhatian investor terhadap aspek tersebut.

>>> POCO F8 Ultra Kembali Tersedia di Indonesia Setelah Stok Habis

"Sosialisasi program-program keberlanjutan akan semakin membuka wawasan investor. Jika adopsinya semakin luas, bukan tidak mungkin nantinya akan semakin didorong melalui regulasi," ungkapnya.

"Idealnya, investor akan lebih tertarik pada perusahaan yang memiliki kinerja baik dan didukung penerapan ESG, salah satunya melalui ekonomi sirkular," lanjutnya.

Nilai Bisnis Program Trade-in

Di sisi lain, Wawan menilai program trade-in tidak hanya relevan dari sisi keberlanjutan, tetapi juga memiliki nilai bisnis yang nyata.

"Saya pribadi sangat mengapresiasi program trade-in dan secara reguler memanfaatkannya. Program seperti ini dapat menjadi loyalty program sekaligus membantu mengurangi limbah elektronik," katanya.

"Bagi saya ini merupakan win-win solution. Konsumen merasa dihargai karena sudah menggunakan perangkatnya dan dapat menukarkannya tanpa perlu pusing dengan perangkat lama."

"Di sisi lain, bagi emiten, program seperti ini dapat menciptakan captive market sepanjang value yang diberikan tetap menarik," sambungnya.

Menurut Wawan, tren ini akan semakin relevan seiring meningkatnya kesadaran generasi muda terhadap isu keberlanjutan.

"Konsumen akan terus berkembang dan generasi muda akan semakin melek terhadap isu-isu ESG.

Meskipun investor tetap akan berfokus pada return dan kinerja perusahaan, penerapan ekonomi sirkular berpotensi menjadi salah satu faktor kompetitif bagi perusahaan yang lebih awal mengadopsinya.

>>> 5 Gadget untuk Nobar Piala Dunia 2026 Jadi Lebih Seru

Success story dari program seperti ini dapat menjadi katalis positif bagi investor," tutup Wawan.