Sepak bola pada awalnya adalah permainan yang kacau dan tanpa bentuk. Majalah The Hunter pada era 1860-an menggambarkannya sebagai aktivitas untuk orang-orang berotot kuat, bukan untuk yang lemah.

Namun, seiring waktu, permainan ini mulai dikodifikasi dan dianalisis.

>>> Stadion Azteca Siap Gelar Pembukaan Piala Dunia 2026

Jonathan Wilson dalam bukunya Inverting The Pyramid mencatat bahwa sejak awal 1870-an, penempatan pemain sudah dianggap penting, meski taktik modern baru diakui pada akhir 1920-an.

Tantangan Menuju Piala Dunia 2026

Kekacauan tetap menjadi bagian dari perjalanan sepak bola, termasuk menjelang Piala Dunia 2026. Salah satu sorotan adalah persoalan imigrasi yang dialami sejumlah tim dan ofisial.

Fabio Cannavaro, pelatih timnas Uzbekistan, menjalani pemeriksaan imigrasi saat tiba di AS. Ia menyebutnya sebagai prosedur standar, namun publik tetap heran.

Wasit FIFA asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan, bahkan ditolak masuk AS karena terkait dengan daftar travel ban pemerintahan Donald Trump.

Ia harus pulang sebelum sempat bertugas.

Iran juga menghadapi kendala visa, sehingga memindahkan kamp latihan dari Arizona ke Tijuana, Meksiko.

Presiden FIFA Gianni Infantino meminta semua pihak untuk tenang dan percaya pada solusi di balik layar.

Timnas Jepang mengalami masalah fasilitas latihan di Meksiko, hingga harus pindah ke markas rival Monterrey.

Sementara itu, kerusuhan kartel di Jalisco memantik keraguan tentang kesiapan Meksiko sebagai tuan rumah.

Di Kanada, harga tiket yang tinggi membuat stadion sulit terisi penuh. Banyak suporter lebih memilih nonton bareng daripada datang langsung ke stadion.

Konsep 'Organised Disorder' di Lapangan

Meski di luar lapangan penuh tantangan, di dalam lapangan sepak bola selalu menemukan jalannya. Konsep 'organised disorder' atau kekacauan yang terkendali menjadi filosofi yang diusung tim-tim sukses.