Depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa bulan terakhir menjadi sorotan. Salah satu fenomena yang disebut sebagai pemicunya adalah 'home bias' dalam investasi.

Home bias adalah kecenderungan investor untuk menanamkan modal di aset negara sendiri, meskipun imbal hasil dari aset negara lain lebih tinggi.

>>> 10 Negara dengan Penampilan Terbanyak di Piala Dunia

Fenomena ini pertama kali diangkat oleh ekonom Maurice Obstfeld dan Kenneth Rogoff dalam kajian mereka tentang 'enam teka-teki utama' ekonomi makro internasional.

Menurut Obstfeld dan Rogoff, home bias puzzle menjelaskan mengapa model moneter yang menggunakan faktor fundamental sering gagal memprediksi pergerakan nilai tukar.

Sejak 1990-an hingga awal 2000-an, sekitar 94% investor AS hanya berinvestasi di dalam negeri.

Krisis Keuangan dan Keterbatasan Model Ekonomi

Fenomena ini mengingatkan pada pertanyaan Ratu Elizabeth II saat berkunjung ke London School of Economics (LSE) pada November 2008.

Ia bertanya, 'Mengapa tidak ada yang melihat krisis keuangan datang?'

Pertanyaan tersebut menjadi headline media dunia. Hingga wafatnya, sang ratu belum mendapatkan jawaban memuaskan dari para ekonom.

Paul Krugman, peraih Nobel Ekonomi, dalam kuliahnya di LSE berjudul 'Crisis in the Economy and Economics' juga menyoroti kegagalan ilmu ekonomi dalam memprediksi krisis.

Hal senada diungkapkan Ben Bernanke pada 2009 bahwa model ekonomi sangat kompleks karena menghadapi tekanan acak, data terbatas, dan pengetahuan yang tidak sempurna.

Ahli meteorologi Edward Lorenz memperkenalkan istilah 'butterfly effect', di mana perubahan kecil pada kondisi awal dapat memengaruhi hasil proyeksi secara signifikan.

Model Moneter dan Depresiasi Rupiah

Model moneter proyeksi nilai tukar menggunakan faktor fundamental seperti Purchasing Power Parity (PPP) dan Uncovered Interest Rate Parity (UIP).