AS Bela Sanksi Ekonomi terhadap Kuba, PBB Peringatkan Dampak Kemanusiaan
Pemerintah Amerika Serikat membela kebijakan sanksi ekonomi terhadap Kuba pada Rabu (10/6/2026). Pembelaan ini muncul setelah Perserikatan Bangsa-Bangsa memperingatkan dampak luas yang mengancam keselamatan warga.
Kebijakan Washington memicu peningkatan tekanan dalam beberapa bulan terakhir. Sanksi menyasar individu dan lembaga, termasuk Presiden Kuba.
>>> Wasit Somalia Omar Abdulkadir Artan Ditolak Masuk AS, Batal Pimpin Piala Dunia 2026
Langkah ini diambil setelah AS menetapkan status darurat nasional terkait Kuba pada tahun ini. Sanksi memungkinkan Washington mengenakan tarif terhadap negara pemasok minyak ke Kuba.
Akibatnya, krisis energi di Kuba semakin parah dan memicu pemadaman listrik di negara Karibia itu. Pejabat Gedung Putih menegaskan sanksi ditujukan kepada para pemimpin, bukan masyarakat.
"Sanksi ini menargetkan para pemimpin dan entitas yang menopang kampanye rezim Kuba yang dinilai mengganggu serta mengancam keamanan nasional Amerika Serikat," kata pejabat Gedung Putih.
Gedung Putih menyatakan bahwa hambatan utama hubungan kedua negara berada pada kepemimpinan Kuba saat ini.
Namun, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio tetap membuka peluang untuk memperbaiki hubungan bilateral dengan Havana.
"Mereka seharusnya mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat sebelum terlambat," ujar pejabat Gedung Putih.
>>> Harga Emas Dunia Ambruk 11 Juni 2026 Mendekati Level US$ 4.000
Kritik Internasional terhadap Sanksi
Di sisi lain, sanksi ini mendapat kritik tajam dari perwakilan internasional. Mereka menilai sanksi memukul sektor-sektor krusial dan mengganggu pemenuhan hak-hak dasar masyarakat Kuba.
Sanksi tersebut membatasi akses warga terhadap air bersih, pangan, hingga layanan kesehatan.
Volker Türk, Komisaris Tinggi HAM PBB, menyatakan paket sanksi yang menyasar sektor penting dan menimbulkan dampak luas bertentangan dengan prinsip hukum HAM internasional.
Kementerian Luar Negeri Kuba belum memberikan tanggapan resmi secara langsung. Namun, ketegangan sempat meningkat setelah Presiden AS Donald Trump berulang kali menyampaikan kemungkinan langkah lebih lanjut.
Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodríguez Parrilla melalui media sosial mengecam kebijakan blokade energi tersebut. Ia menilai kebijakan itu merugikan warga dan menghambat bantuan internasional.
>>> Omar Alderete Optimis Paraguay Mampu Bicara Banyak di Piala Dunia 2026
Pemerintah Kuba juga merespons keras ancaman penggunaan kekuatan militer yang dinilai melanggar hukum internasional.
Update Terbaru
Suzuki Ungkap Efek Samping Penggunaan BBM RON Tinggi yang Tidak Sesuai Mesin
Kamis / 11-06-2026, 08:52 WIB
HUAWEI Uji Smartphone Layar Melebar dengan Resolusi 2K
Kamis / 11-06-2026, 08:51 WIB
Ketahui Kapan Harus Mengganti Bantal Rumah Anda Berdasarkan Materialnya
Kamis / 11-06-2026, 08:51 WIB
Garuda Indonesia Gandeng Scandinavian Airlines Perluas Jaringan ke Eropa Utara
Kamis / 11-06-2026, 08:48 WIB
Harga Emas Dunia 11 Juni 2026 Anjlok ke Level Terendah Enam Bulan
Kamis / 11-06-2026, 08:48 WIB
Persib Bandung Hadapi Grup Berat di ASEAN Club Championship 2026-2027
Kamis / 11-06-2026, 08:48 WIB
Sentimen Bisnis Jepang Kuartal II-2026 Anjlok Akibat Konflik Timur Tengah
Kamis / 11-06-2026, 08:46 WIB
Investor Asing Borong Saham INDF Senilai Rp 11,98 Miliar
Kamis / 11-06-2026, 08:46 WIB
Chandra Asri Pacific Naikkan Porsi Saham Publik Jadi 25,7 Persen
Kamis / 11-06-2026, 08:46 WIB
BKN Wajibkan Multi-Factor Authentication untuk Lindungi Akun ASN Digital
Kamis / 11-06-2026, 08:45 WIB
Mitos RON Tinggi Lebih Baik: Kenali Risiko Salah Pilih BBM
Kamis / 11-06-2026, 08:45 WIB
Real Madrid Tawarkan 150 Juta Euro untuk Julian Alvarez
Kamis / 11-06-2026, 08:45 WIB
BKN Wajibkan MFA untuk Lindungi Data ASN Digital Nasional
Kamis / 11-06-2026, 08:44 WIB
Prabowo Dorong Pengusaha Muda HIPMI Perkuat Nasionalisme Ekonomi
Kamis / 11-06-2026, 08:44 WIB






