Kondisi di Timur Tengah semakin rumit setelah Dewan Gubernur Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyetujui resolusi yang disokong AS.

Resolusi dari lembaga beranggotakan 35 negara itu mendesak Iran mendeklarasikan sisa stok uranium mereka serta membuka akses bagi inspektur verifikasi.

Walau tensi meninggi, analis PVM Tamas Varga melihat ada faktor yang menahan laju kenaikan harga minyak, yakni melemahnya impor minyak mentah dari China serta pembatasan arus pelayaran di Selat Hormuz.

Varga menyebut beberapa kapal mulai melewati jalur selat strategis tersebut, namun volumenya masih berada jauh di bawah level sebelum konflik.

Iran masih memblokade sebagian besar pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi jalur bagi seperlima perdagangan minyak mentah dan LNG dunia, sementara AS juga memblokir pelabuhan Iran.

Efek domino dari lonjakan harga energi ini telah mendorong inflasi AS pada Mei 2026 mencapai laju tercepat dalam tiga tahun terakhir.

>>> BCA Pertahankan Strategi Penghimpunan Dana Pruden Usai BI Rate Naik

Implikasinya, pelaku pasar kini memproyeksikan Federal Reserve berpotensi menaikkan suku bunga acuan lagi pada akhir tahun.