"Harga minyak bergerak dari kecemasan menjadi apatis, lalu kembali khawatir setelah bentrokan baru antara Amerika Serikat dan Iran," ujarnya.

Selain faktor ketegangan politik, pergerakan harga minyak disokong oleh data domestik AS.

Laporan Badan Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan persediaan minyak mentah AS merosot lebih dalam dari proyeksi awal.

Stok minyak mentah AS tercatat turun 7,2 juta barel untuk pekan yang berakhir pada 5 Juni 2026.

>>> Wall Street Merosot Tajam, Aksi Jual Saham Teknologi dan Konflik AS-Iran Jadi Pemicu

Angka penurunan ini melampaui estimasi para analis dalam survei Reuters yang memperkirakan penyusutan hanya sekitar 40 juta barel.

Penyusutan cadangan terjadi karena kilang-kilang di AS meningkatkan produksi demi menutupi defisit pasokan akibat gangguan konflik di Timur Tengah.

Data tersebut juga memperlihatkan cadangan Strategic Petroleum Reserve (SPR) AS menyentuh level terendah sejak Agustus 2023.

Secara terpisah, Departemen Energi AS menyatakan kesiapan mereka untuk meminjamkan hingga 40 juta barel minyak dari SPR kepada perusahaan energi swasta demi menekan harga bahan bakar di pasar domestik.

Di sektor keamanan, militer AS telah meluncurkan serangan ke sejumlah target di Iran. Langkah ini diambil setelah Trump berjanji membalas insiden jatuhnya helikopter tempur Apache milik armada AS.

Militer AS juga mengonfirmasi serangan presisi terhadap sebuah kapal di Teluk Oman yang mengabaikan instruksi dan diduga mengangkut minyak dari Iran.

Pemerintah India melaporkan tiga awak kapalnya hilang akibat insiden tersebut.

Senior Market Analyst Phillip Nova Priyanka Sachdeva berpendapat bahwa dinamika terbaru ini secara langsung meningkatkan risiko geopolitik di pasar energi dunia.

"Meskipun upaya diplomasi masih berlangsung, aksi militer terbaru telah mengembalikan premi risiko geopolitik ke pasar minyak," ujarnya.