Mengenal Sindrom CKM yang Mengancam Sembilan dari Sepuluh Orang Dewasa

Kelebihan berat badan, terutama penumpukan lemak di perut, menjadi pemicu utama sindrom kardiovaskular-ginjal-metabolik atau sindrom CKM.
Hampir 9 dari 10 orang dewasa di Amerika Serikat diperkirakan memiliki setidaknya satu kondisi dalam sindrom CKM, meskipun banyak yang tidak menyadarinya.
>>> Bank Indonesia Optimistis Ekonomi 2027 Dekati 6 Persen
Kondisi yang termasuk dalam sindrom CKM meliputi tekanan darah tinggi, kolesterol dan lipid abnormal, gula darah tinggi, penurunan fungsi ginjal, serta kelebihan berat badan.
Seiring meningkatnya angka obesitas, pedoman kesehatan terbaru menekankan pentingnya menjaga berat badan ideal untuk mencegah masalah kesehatan yang lebih parah.
Berat badan seseorang tidak bisa hanya diukur dari angka pada timbangan. Orang dengan berat badan sama bisa memiliki profil kesehatan yang berbeda.
"Dalam hal kesehatan CKM, berat badan bukan hanya tentang angka pada timbangan – orang dengan berat badan yang sama dapat memiliki profil kesehatan yang sangat berbeda," kata Chiadi E.
Ndumele, M. D.
, Ph. D.
, sukarelawan American Heart Association dan ketua komite penulisan pedoman baru ini.
>>> Timnas Indonesia Tekuk Mozambik 1-0 di GBK, Marselino Kembali Tampil
Yang paling penting adalah bagaimana jaringan lemak memengaruhi kesehatan metabolisme tubuh, termasuk pengaturan kadar gula darah serta penggunaan dan penyimpanan lemak.
Hubungan Antar-Penyakit dalam Sindrom CKM
Pedoman sindrom CKM ini menggantikan pedoman pengelolaan kelebihan berat badan dan obesitas tahun 2013. Istilah sindrom CKM pertama kali didefinisikan oleh American Heart Association pada tahun 2023.
Banyak orang mengetahui bahwa mereka mengidap penyakit jantung, ginjal, atau diabetes, tetapi tidak menyadari keterkaitan erat di antara kondisi-kondisi tersebut.
Memiliki salah satu kondisi medis ini secara otomatis meningkatkan risiko terkena penyakit lainnya.
"Tantangannya adalah menghubungkan rekomendasi dari berbagai dokter yang mungkin hanya berspesialisasi dalam salah satu kondisi ini," kata Ndumele.
"Kami mencoba membantu dokter dari berbagai spesialisasi untuk berbicara dalam bahasa yang sama dan memiliki pemahaman yang sama, terutama dalam mengelola berat badan dan konsekuensi klinisnya."
Secara medis, penumpukan jaringan lemak pada penderita obesitas terjadi di area perut dan menempel pada organ-organ di dalamnya.
>>> Indeks LQ45 Menguat 3,54% di Tengah Aksi Jual Asing
Lemak perut tersebut berisiko memicu peradangan yang menyebabkan resistensi insulin serta mengganggu mekanisme pelebaran dan penyempitan pembuluh darah.
Update Terbaru
Harga Minyak Dunia Menguat Imbas Ketegangan AS dan Iran Meningkat
Rabu / 10-06-2026, 22:40 WIB
4 Rekomendasi Loose Powder untuk Usia 30-an, Samarkan Garis Halus
Rabu / 10-06-2026, 22:36 WIB
Netflix Hadirkan Pembaruan Fitur Seluler dan Game di Asia Pasifik
Rabu / 10-06-2026, 22:36 WIB
Nusa Network Prakarsa Dorong Perubahan Paradigma Keamanan Siber Perusahaan
Rabu / 10-06-2026, 22:33 WIB
Maybank Sekuritas Perkirakan BI Rate Naik Hingga 6 Persen
Rabu / 10-06-2026, 22:32 WIB
Lagu Denok Karya Didik Budi Viral dan Puncaki Tren TikTok
Rabu / 10-06-2026, 22:32 WIB
Apple Rilis MacBook Neo Termurah 2026, Guncang Pasar Gadget Indonesia
Rabu / 10-06-2026, 22:28 WIB
Cristiano Ronaldo Berpotensi Cetak Rekor Enam Piala Dunia
Rabu / 10-06-2026, 22:28 WIB
Piala Dunia 2026 Hadirkan Perubahan Besar Dibanding Edisi 1994
Rabu / 10-06-2026, 22:26 WIB
Texas Hampir Salip California dalam Penjualan Mobil Baru, Banyak yang Bayar Tunai
Rabu / 10-06-2026, 22:25 WIB
Thomas Tuchel Sebut Timnas Inggris Bukan Favorit Utama Piala Dunia 2026
Rabu / 10-06-2026, 22:24 WIB
FIFA Pastikan Wasit Terbaik Afrika Omar Artan Absen di Piala Dunia 2026
Rabu / 10-06-2026, 22:24 WIB
Tiga Negara Siapkan Upacara Pembukaan Piala Dunia 2026 yang Berbeda
Rabu / 10-06-2026, 22:21 WIB
Harga BBM Pertamax Naik Menjadi Rp 16.250 Per Liter
Rabu / 10-06-2026, 22:20 WIB






