Jagat media sosial kembali dihebohkan oleh sebuah insiden kekerasan yang berujung maut. Sebuah video viral memperlihatkan detik-detik mengerikan seorang pria tewas dikeroyok oleh sekelompok warga di Kabupaten Tabanan, Bali. Korban, yang berinisial KD, diduga menjadi sasaran amuk massa setelah dituding mencuri seekor ayam aduan.
 
Insiden yang terjadi di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, ini tidak hanya menyisakan duka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan, tetapi juga memicu perdebatan publik mengenai bahaya budaya "main hakim sendiri" yang masih kerap terjadi di tengah masyarakat.
 

Kronologi Mencekam dan Aksi Main Hakim Sendiri

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari lapangan, insiden bermula ketika KD diduga tertangkap basah oleh warga setempat saat berupaya membawa lari seekor ayam aduan. Alih-alih menyerahkan tersangka kepada aparat keamanan, emosi massa tak terbendung.
 
KD pun dikeroyok secara brutal oleh warga yang murka. Puncak dari kekacauan ini semakin diperparah dengan laporan bahwa sepeda motor yang digunakan KD untuk melarikan diri ikut dibakar oleh massa di lokasi kejadian. Aksi perusakan harta benda dan penganiayaan berat ini kini menjadi fokus utama penyelidikan kepolisian untuk mengungkap rangkaian kejadian secara utuh dan menjerat para pelaku dengan pasal yang sesuai.
 
Baca Juga: Bahaya Main Hakim Sendiri, Ini Ancaman Hukuman Pidana bagi Pelaku Pengeroyokan hingga Maut
 

Tangisan Pilu Anak Bungsu yang Menyayat Hati

Dari seluruh rangkaian peristiwa tragis ini, ada satu momen yang paling banyak menyita perhatian dan menguras air mata warganet. Video yang beredar luas di berbagai platform media sosial menampilkan sosok putri bungsu KD yang menangis histeris di samping jenazah ayahnya.
 
Dalam rekaman tersebut, terlihat gadis kecil itu berada di tengah kerumunan orang, berusaha menjangkau tubuh ayahnya yang telah tak bernyawa. Sambil terisak, ia terus memanggil-manggil sang ayah dengan suara yang pecah. Beberapa orang di kerumunan tampak berusaha menenangkan dan memegangi gadis kecil itu, namun tangisan pilunya tetap terdengar hingga ke relung hati siapa pun yang menyaksikan. Momen ini menjadi pengingat keras bahwa di balik setiap tindakan kekerasan, selalu ada keluarga tak berdosa yang harus menanggung trauma seumur hidup.