Dampak Variatif dan Strategi Ekspansi

Efek dari depresiasi rupiah ini tidak memukul seluruh jenis industri dengan kadar yang sama.

>>> Polri Ajak Masyarakat Nobar Piala Dunia 2026 di Kantor Polisi

Perusahaan yang mengandalkan bahan baku lokal atau berorientasi ekspor dinilai lebih memiliki ketahanan alami terhadap gejolak kurs.

Sebaliknya, tekanan berat menyasar industri yang mengandalkan bahan baku impor namun menjual produk akhirnya di pasar domestik.

Kondisi ini berpotensi menggerus margin laba, memperketat arus kas, dan membatasi ruang pengembangan usaha.

"Kalau volatilitas nilai tukar tinggi, biaya produksi sulit diprediksi, dan tekanan eksternal terus berlanjut, maka appetite perusahaan untuk ekspansi tentu akan lebih berhati-hati.

Jadi, bukan berarti semua investasi langsung berhenti, tetapi banyak perusahaan akan masuk ke mode wait and see, lebih selektif, dan menunda keputusan ekspansi sampai kondisi makro lebih stabil," jelas Shinta.

Guna mengatasi persoalan ini, Apindo mengharapkan pemerintah dan otoritas moneter mengambil langkah nyata untuk menjaga stabilitas kurs.

Langkah penekanan biaya ekonomi domestik mulai dari logistik, energi, perizinan, hingga pembiayaan sangat diperlukan.

Sinergi yang kuat antara kebijakan fiskal, moneter, perdagangan, perindustrian, investasi, dan ketenagakerjaan menjadi instrumen krusial.

Langkah koordinasi ini penting agar stabilisasi ekonomi berjalan tanpa mengorbankan pertumbuhan sektor industri dan lapangan kerja.

"Dalam situasi ketika tekanan eksternal meningkat, pengurangan biaya-biaya domestik menjadi sangat penting agar industri tidak kehilangan daya saing.

Pemerintah juga perlu memastikan kelancaran pasokan bahan baku dan energi bagi industri.

>>> KPK Belum Jadwalkan Pemanggilan Raffi Ahmad Terkait Kasus Bea Cukai

Ketersediaan bahan baku, distribusi energi yang memadai, serta efisiensi rantai pasok menjadi kunci agar tekanan biaya tidak semakin besar," tutup Shinta.