Sektor manufaktur nasional semakin merasakan dampak negatif dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Industri ini menjadi salah satu yang paling rentan karena struktur produksinya masih sangat bergantung pada pasokan luar negeri.

>>> Arsene Wenger Yakin Kylian Mbappe Akan Bersinar di Piala Dunia 2026

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani, menjelaskan bahwa fluktuasi kurs langsung memicu kenaikan pengeluaran perusahaan.

Dikutip dari Detik Finance, penurunan nilai rupiah sempat membuat dolar AS diperdagangkan pada level Rp 18.000, sebelum akhirnya bergerak ke posisi Rp 17.944.

"Tekanan terhadap rupiah ini juga sudah terjadi secara bertahap sejak awal tahun, sehingga dampaknya terhadap sektor riil kini semakin terasa.

Bagi industri manufaktur, pelemahan rupiah menjadi sangat sensitif karena struktur produksi nasional masih memiliki ketergantungan yang cukup tinggi terhadap bahan baku dan barang antara impor, sekitar 70%," kata Shinta saat dihubungi detikcom, Rabu (10/6/2026).

Kondisi yang dihadapi para pelaku usaha saat ini tidak hanya terbatas pada persoalan konversi mata uang asing.

Industri manufaktur juga harus menghadapi lonjakan biaya operasional domestik yang masih tinggi.

"Kondisi ini juga terjadi di tengah biaya logistik, energi, dan pembiayaan yang masih relatif tinggi.

Jadi, yang dihadapi pelaku usaha saat ini bukan hanya tekanan nilai tukar, tetapi tekanan biaya berlapis atau externally driven cost pressure," tambah Shinta.

Situasi tersebut menempatkan korporasi dalam jepitan beban ganda yang berat.

Di satu sisi pengeluaran untuk produksi membengkak, namun di sisi lain margin penyesuaian harga jual sangat terbatas akibat daya beli masyarakat yang belum pulih total disertai persaingan pasar yang ketat.