Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat sebesar 0,63 persen ke level Rp 17.944 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (10/6/2026).

Penguatan ini terjadi setelah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,50 persen.

>>> Airlangga Siapkan Stimulus untuk Redam Dampak Kenaikan Harga Pertamax

Posisi tersebut naik dari penutupan hari sebelumnya di level Rp 18.058 per dolar AS.

Kenaikan ini dinilai memberikan sinyal positif bagi pasar keuangan domestik.

Kinerja Rupiah Masih Tertinggal di Asia

Meski menguat harian, kinerja rupiah tercatat masih menjadi yang paling lemah di antara mayoritas mata uang Asia lainnya.

Depresiasi rupiah melebar hingga 3,57 persen dalam sebulan terakhir.

>>> Pemprov DKI Kaji Penyesuaian Tarif Bus Transjabodetabek Rute Blok M-Bandara

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman, mengatakan bahwa tanpa perbaikan fundamental ekonomi, penguatan rupiah cenderung bersifat sementara.

Ia menjelaskan bahwa posisi rupiah yang tertinggal dipicu oleh tingginya premi risiko Indonesia akibat dinamika global seperti penguatan dolar AS dan ketidakpastian geopolitik.

Faktor domestik seperti risiko fiskal dan arus modal keluar juga turut mempengaruhi.

>>> Kebiasaan Berbuat Baik Secara Konsisten Mampu Mengubah Jalur Saraf Otak

Rizal memproyeksikan nilai tukar rupiah akan bergerak pada rentang Rp 17.500 hingga Rp 18.200 per dolar AS hingga akhir semester II 2026.