Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah mengkaji penyesuaian tarif pada sejumlah rute layanan Transjabodetabek yang memiliki biaya operasional tinggi.

Rencana perubahan harga tiket menyasar rute dari Blok M menuju Bandara Soekarno-Hatta yang saat ini masih bertarif sangat rendah.

>>> Kebiasaan Berbuat Baik Secara Konsisten Mampu Mengubah Jalur Saraf Otak

Kebijakan peninjauan ulang tarif ini didorong oleh peningkatan beban subsidi operasional serta perawatan fasilitas Transjabodetabek di wilayah penyangga.

Saat ini, penumpang rute Blok M menuju bandara hanya membayar Rp3.500, sementara penyedia jasa lain seperti DAMRI menetapkan tarif mulai dari Rp80.000 untuk rute Tanjung Barat ke Bandara Soekarno-Hatta.

Gubernur DKI: Tarif Saat Ini Tidak Representatif

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menjelaskan bahwa nominal tarif yang berlaku sekarang dinilai sudah tidak representatif dengan biaya riil di lapangan.

Beliau membandingkan angka tersebut dengan tarif parkir di area bandara yang jauh lebih tinggi.

"Kalau kemudian Rp3.500 untuk parkir di Soekarno-Hatta saja tidak cukup, maka yang begitulah akan ada penyesuaian," kata Pramono Anung.

Pemerintah memastikan bahwa proses penyesuaian harga ini dilakukan secara cermat agar tidak membebani masyarakat secara berlebihan.

Kebijakan pemberian bantuan dana dari pemerintah daerah dipastikan tetap berjalan demi menjaga stabilitas harga.

>>> Aurelie Moeremans Rilis Buku Kedua Do You Like What I See, Angkat Kisah Healing

"Enggak mungkin enggak disubsidi, pasti tetap akan disubsidi," ujarnya.

Pramono Anung menambahkan bahwa kalkulasi tarif baru akan diputuskan secara hati-hati agar tidak memicu masyarakat kembali menggunakan moda transportasi pribadi.

Pemerintah daerah juga terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan lewat penambahan jumlah armada bus di lapangan.

"Prinsipnya pasti saya mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh tidak membuat orang kemudian beralih kepada kendaraan pribadi kembali," kata Pramono Anung.

Konektivitas angkutan umum di area ibu kota saat ini dilaporkan telah menyentuh angka 93 persen.

Meski tingkat keterhubungan sudah tinggi, persentase warga yang memanfaatkan fasilitas tersebut baru mencapai kisaran 30 persen dari total mobilitas masyarakat di Jakarta.

"Ini akan menjadi sangat baik kalau kemudian orang terus-menerus menggunakan transportasi umum sudah di atas angka 30 persen.

>>> IHSG Melonjak 2,71% ke 5.902, Saham Bank Himbara Jadi Motor Penggerak

Apakah bisa? Saya yakin bisa," kata Pramono Anung.