Kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Korea Utara pekan ini dinilai membawa keuntungan strategis bagi kedua negara.

Di satu sisi, Pyongyang berhasil meningkatkan posisi diplomatik pemimpinnya, Kim Jong Un, di panggung internasional.

>>> Prabowo Ingatkan Pengusaha HIPMI Patuhi Hukum, Manfaatkan AI untuk Transparansi

Di sisi lain, Beijing dinilai sukses menarik Korea Utara semakin dekat ke dalam orbit pengaruhnya di tengah dinamika geopolitik kawasan.

Selama kunjungan dua hari tersebut, kedua negara saling melontarkan pujian dan menegaskan komitmen untuk memperdalam kerja sama bilateral.

Xi disambut langsung oleh Kim Jong Un dengan penghormatan 21 tembakan salvo serta pertunjukan lagu-lagu China dan Korea Utara.

Menariknya, agenda pertemuan tidak menyinggung isu-isu sensitif seperti denuklirisasi Semenanjung Korea maupun hubungan dengan Amerika Serikat.

Isu Denuklirisasi Tak Lagi Menjadi Fokus

Absennya pembahasan mengenai denuklirisasi menandai perubahan signifikan dalam hubungan Beijing dan Pyongyang.

Pada masa lalu, isu tersebut kerap menjadi sumber ketegangan di antara kedua negara.

Sehari sebelum kedatangan Xi, Kim Yo Jong, adik Kim Jong Un, mengkritik Amerika Serikat yang dinilai menyebarkan informasi keliru setelah Washington pada Mei lalu menyatakan bahwa Xi dan Presiden AS Donald Trump telah menegaskan tujuan bersama untuk melakukan denuklirisasi Korea Utara dalam pembicaraan di Beijing.

Analis China dan Asia Timur Laut dari Eurasia Group, Jeremy Chan, menilai sikap Beijing menunjukkan perubahan pendekatan terhadap status nuklir Korea Utara.

“Beijing dengan sangat jelas telah meninggalkan isu tersebut dan kini secara diam-diam menerima Korea Utara sebagai negara berkekuatan nuklir.

Hal itu kemungkinan menempatkan China pada posisi yang setara dengan Rusia di mata Pyongyang,” kata Chan.