Ia menambahkan, “Saya pikir China berhasil mencapai tujuan utama dari kunjungan ini, yaitu menarik Korea Utara semakin dekat dan menyeimbangkan pengaruh Rusia yang terus berkembang di negara tersebut.”

Ketika ditanya apakah Xi dan Kim membahas isu denuklirisasi, Kementerian Luar Negeri China hanya menyatakan bahwa posisi dan kebijakan Beijing terhadap Semenanjung Korea tetap konsisten dan stabil.

Pemerintah China juga belum memberikan komentar apakah tidak disebutkannya isu tersebut berarti pengakuan implisit terhadap Korea Utara sebagai negara nuklir.

Hubungan Semakin Erat, tetapi Masih Ada Batasannya

Meski demikian, para analis melihat adanya perbedaan penekanan dalam pernyataan resmi kedua negara mengenai hasil pertemuan para pemimpin.

>>> Krisna Mukti Ungkap Isi Unggahan Eks Wakil Kepala BGN Sony Sanjaya

Korea Utara lebih menonjolkan kemegahan seremoni serta berupaya memosisikan diri setara dengan China.

Sebaliknya, Beijing lebih banyak menyoroti peluang kerja sama di bidang perdagangan, pariwisata, hingga penegakan hukum.

Menurut Jenny Town, Direktur Program Korea di Stimson Center, hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat batas sejauh mana Korea Utara ingin mempererat hubungan dengan China setelah beberapa tahun terakhir lebih dekat dengan Rusia melalui dukungan militer dalam perang Ukraina yang dibalas dengan bantuan ekonomi dari Moskow.

“Jelas bahwa Kim dan Xi tidak memiliki kedekatan personal seperti hubungan Kim dengan Putin. Tampaknya hanya ada sedikit ikatan pribadi di antara mereka.

Namun, keduanya memahami nilai strategis dari hubungan tersebut sehingga tetap memilih untuk melanjutkannya,” ujarnya.

Pengamat juga menyoroti dukungan eksplisit Kim Jong Un terhadap prinsip "Satu China" (One China Policy), yakni kebijakan Beijing yang menyatakan bahwa kedua sisi Selat Taiwan merupakan bagian dari satu negara.