Selain itu, pernyataan China mengenai kerja sama militer juga dianggap sebagai perkembangan penting.

Pendiri situs NK News, Chad O'Carroll, mengatakan bahwa dukungan Korea Utara terhadap Rusia sebelumnya telah membuktikan bahwa Pyongyang mampu memberikan bantuan material kepada kekuatan besar pada masa perang.

“Dukungan Korea Utara kepada Rusia menunjukkan bahwa Pyongyang dapat memberikan bantuan material kepada negara besar saat perang berlangsung.

Memang belum ada bukti komitmen serupa kepada China, tetapi sikap Korea Utara mengenai Taiwan kini menjadi jauh lebih penting dibanding sebelumnya,” katanya.

Selain isu geopolitik, para pengamat juga mencermati absennya putri Kim Jong Un dalam kunjungan tersebut.

Sebelumnya, putri Kim yang diyakini berusia sekitar 13 tahun dan bernama Ju Ae sempat mendampingi ayahnya dalam kunjungan ke Beijing tahun lalu serta beberapa kali tampil dalam acara resmi, sehingga memunculkan spekulasi bahwa ia sedang dipersiapkan sebagai penerus kepemimpinan.

Namun, baik media pemerintah China maupun Korea Utara tidak menampilkan sosok Ju Ae dalam dokumentasi kunjungan kali ini.

Associate Professor Program China di S. Rajaratnam School of International Studies, Singapura, Benjamin Ho, menilai absennya Ju Ae sejalan dengan gaya diplomasi Beijing.

>>> Telkom University Buka Pendaftaran Proyek Akademik IMPACT&EDU 2026

“Mengingat Beijing sangat menjunjung tinggi protokol kenegaraan, akan terasa canggung apabila seorang gadis muda hadir di tengah para pejabat senior yang mengikuti pertemuan tersebut,” ujarnya.