Imunisasi influenza menjadi langkah krusial bagi anak untuk menangkal penularan virus flu yang sangat agresif. Penyakit pernapasan ini menyerang hidung, tenggorokan, hingga paru-paru akibat infeksi virus influenza.

Infeksi ini memicu gejala seperti demam tinggi dan batuk. Mayoritas anak pulih dalam waktu kurang dari seminggu, namun sebagian kasus memerlukan tindakan medis lebih lanjut.

>>> Menkes Siapkan Ahli Gizi Dukung Langkah Baru Badan Gizi Nasional

Virus influenza terbagi menjadi beberapa tipe.

Tipe A dan B sering menyerang saluran pernapasan dengan gejala nyeri otot dan demam tinggi, yang efektif dicegah melalui vaksinasi.

Sementara itu, virus influenza tipe C menyebabkan gangguan pernapasan yang lebih ringan. Penularan terjadi melalui droplet saat bersin atau batuk, terutama antarsesama anak.

Virus flu juga dapat bertahan di permukaan benda seperti mainan, ponsel, dan gagang pintu. Anak bisa tertular saat menyentuh benda terkontaminasi lalu memegang mulut, hidung, atau mata.

Faktor risiko penularan meningkat jika anak berada di dekat penderita flu, belum divaksinasi, atau jarang mencuci tangan.

Anak dengan kondisi medis tertentu berisiko tinggi mengalami komplikasi berat hingga perlu rawat inap.

Komplikasi yang dapat muncul meliputi dehidrasi, pneumonia, sinusitis, infeksi telinga, serta memperburuk penyakit bawaan seperti asma atau gangguan jantung.

Gejala umum meliputi sakit kepala, nyeri tubuh, batuk, dan hidung tersumbat.

Pada beberapa kasus, anak juga menunjukkan gejala pencernaan seperti mual, muntah, dan diare. Pemulihan umumnya berlangsung sekitar seminggu, tetapi rasa lemas bisa bertahan hingga 3–4 minggu.

Identifikasi flu pada balita seringkali sulit. Dokter penyakit infeksi Rachel Orscheln, MD, mengatakan influenza sering sulit dibedakan dari infeksi virus lainnya.