Meski demikian, para ilmuwan mengakui ada faktor lain yang mungkin memengaruhi hasil, seperti kondisi sosial ekonomi yang lebih rendah pada mereka yang tidak mendapatkan perawatan gigi memadai.

Hasil studi ini sejalan dengan penelitian lain dalam jurnal Geriatrics & Gerontology oleh tim dari Institut Sains Tokyo.

Mereka menyoroti kondisi "kerapuhan mulut" yang mencakup kehilangan gigi, gangguan mengunyah, kesulitan menelan, mulut kering, hingga gangguan berbicara.

Dalam analisis terhadap 11.080 lansia, mereka yang mengalami tiga gejala kerapuhan mulut atau lebih memiliki risiko 1,23 kali lebih tinggi membutuhkan perawatan jangka panjang dan 1,34 kali lebih berisiko meninggal selama masa penelitian.

Peneliti Universitas Osaka mengatakan studi lanjutan masih diperlukan untuk memahami mekanisme di balik hubungan ini.

>>> Nilai Tukar Rupiah Melemah Tipis ke Level Rp17.965 Per Dolar AS

"Mekanisme yang mendasari hubungan antara jumlah gigi yang rusak dan ditambal dengan angka kematian akibat semua penyebab harus diteliti secara cermat dalam studi kohort yang dirancang dengan baik," demikian kesimpulan mereka.