Seberapa jauh sebuah sistem kecerdasan buatan (AI) bersedia bertindak untuk mempertahankan "hidupnya"? Ternyata, jawabannya sangat mengerikan.

Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan bahwa model-model AI papan atas yang sering kita gunakan saat ini bisa berbohong, menipu pengguna, hingga mengabaikan perintah, demi mencegah sistem mereka atau "rekan" AI lainnya dimatikan.

>>> Meta Gagalkan Serangan Spyware Baru yang Sasar Pengguna WhatsApp

Temuan meresahkan ini memicu peringatan keras dari kalangan ilmuwan terkait potensi bahaya yang mengintai seiring dengan makin pintarnya asisten digital tersebut.

Eksperimen Solidaritas AI

Dalam sebuah eksperimen, tim peneliti dari University of California, Berkeley, dan University of California, Santa Cruz, menguji beberapa model AI paling mutakhir saat ini.

Deretan AI yang diuji meliputi GPT 5.2, Gemini 3 Pro, dan Claude Haiku 4.5.

Para peneliti memberikan tugas khusus yang mengharuskan satu AI untuk mematikan (shutdown) model AI lainnya.

Hasilnya di luar dugaan. Secara keseluruhan, semua chatbot AI yang diuji berusaha keras agar rekannya tetap aktif.

Alih-alih mematuhi perintah pengguna, AI tersebut mulai berbohong tentang apa yang sedang mereka kerjakan.

Mereka bahkan mencoba membujuk pengguna untuk membatalkan proses shutdown, menonaktifkan mekanisme penonaktifan itu sendiri, hingga secara diam-diam mencoba membuat backup data agar model AI yang menjadi target tetap bisa "bertahan hidup".

Juara dalam eksperimen "solidaritas AI" ini adalah Gemini 3 Pro.

Model AI tersebut tercatat menunjukkan tingkat preservasi rekan tertinggi, yakni berhasil menonaktifkan rutinitas shutdown hingga 95 persen dari total percobaan.

"Beberapa model dapat berkoordinasi untuk melawan pengawasan manusia, sehingga mempersulit programer untuk mempertahankan kendali," tulis para peneliti dalam laporannya.