Para ekonom memproyeksikan Bank of Japan (BOJ) akan menaikkan suku bunga acuan pekan depan. Kenaikan ini didorong oleh kekhawatiran inflasi akibat perang di Iran.

Sebanyak 49 dari 51 ekonom dalam survei Bloomberg News memperkirakan BOJ akan menaikkan suku bunga utama sebesar 25 basis poin menjadi 1%.

>>> Gedung Putih Siapkan Skenario Alihkan Tanggung Jawab Jika Wabah Ebola Masuk AS

Angka ini menjadi level tertinggi sejak 1995.

Hasil jajak pendapat juga menunjukkan potensi kenaikan lanjutan hingga 1,25% pada akhir tahun.

Survei ini muncul di tengah tingginya harga minyak dunia yang mendorong kebijakan moneter global lebih ketat.

Sinyal Gubernur BOJ

Ekspektasi kenaikan suku bunga mendapat momentum setelah Gubernur BOJ Kazuo Ueda memberi sinyal pekan lalu.

Ueda menyatakan lebih mengkhawatirkan risiko kenaikan harga ketimbang dampak ekonomi akibat geopolitik Timur Tengah.

Pidato Ueda membuat opsi kenaikan suku bunga pada Juni dinilai pasti atau sangat mungkin terjadi oleh 94% responden.

Persentase responden yang menilai adanya peningkatan risiko BOJ tertinggal mengantisipasi inflasi mencapai 60%.

Jika BOJ menahan diri, kekhawatiran bank sentral tertinggal dalam mengantisipasi inflasi bisa semakin intens. Kondisi ini berpotensi memicu lonjakan tajam pada suku bunga jangka panjang.

Perekonomian Jepang masih cukup tangguh meski menghadapi tekanan geopolitik. Data PDB revisi menunjukkan ekonomi Jepang tumbuh pada laju tahunan 1,8% pada awal tahun.

>>> Harga Emas Perhiasan 10 Juni 2026 Naik Tipis, Tertinggi Rp2,385 Juta per Gram

Para pembuat kebijakan tengah mempertimbangkan kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin persentase pekan depan. Mereka juga membuka kemungkinan kenaikan lanjutan pada akhir tahun.

Sekitar 71% ekonom memperkirakan BOJ akan menaikkan suku bunga sekali setiap enam bulan. Beberapa ekonom, termasuk Yoshimasa Maruyama dari SMBC Nikko Securities, memperkirakan kenaikan berikutnya pada Oktober.