Eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah berdampak langsung pada sektor pariwisata Dubai. Jumlah wisatawan asing menurun, memaksa sejumlah akomodasi elit melonggarkan kebijakan pemesanan.

Kawasan Palm Jumeirah, pulau buatan eksklusif dengan biaya akomodasi tinggi, kini terlihat lengang. Warga lokal memanfaatkan situasi ini untuk menikmati fasilitas yang sebelumnya didominasi ekspatriat kelas atas.

>>> Format Baru Piala Dunia 2026 Hadirkan 12 Grup Kompetitif

Laporan Japan Today pada Rabu (10/6/2026) menyebutkan tingkat hunian di beberapa penginapan tidak mencapai kapasitas maksimal.

Manajemen bahkan terpaksa menutup beberapa lantai bangunan.

"Kemewahan di Dubai kini terjangkau bagi penduduk setempat, sebelumnya hanya untuk orang kaya, orang yang sangat kaya," kata seorang ekspat asal Libanon.

Secara historis, Dubai mencatatkan kunjungan hingga 19,5 juta wisatawan setiap tahun.

Kota ini memiliki 827 hotel, termasuk 173 penginapan bintang lima dengan rata-rata okupansi di atas 80 persen.

Namun, pertempuran yang dipicu konflik antara Amerika Serikat dan Iran pada 28 Februari merusak reputasi pariwisata yang telah dibangun.

Gencatan senjata pada 8 April mulai mendatangkan turis, meski operasional kini bertumpu pada pasar domestik.

Michael Robinson, Manajer Umum Anantara The Palm Dubai Resort, menjelaskan bahwa pihaknya menerapkan potongan harga sewa kamar hingga 50 persen.

Kebijakan ini mampu mendongkrak tingkat keterisian kamar hingga 70-90 persen pada akhir pekan.

Sebaliknya, pada hari kerja (Minggu hingga Kamis), angka okupansi merosot tajam ke 20-30 persen. Langkah pemotongan harga dinilai lebih aman secara finansial dibandingkan pengurangan tenaga kerja.

>>> Pertamina Resmi Naikkan Harga Pertamax dan Pertamax Green 95 per 10 Juni 2026

Manajemen kini merumuskan strategi jangka panjang karena perbedaan durasi menginap antara pasar lokal dan internasional.