Pasar saham di Asia diperkirakan mengalami penurunan pada perdagangan Rabu (10/6/2026).

Pelemahan ini menyusul sesi volatil di Wall Street yang dipicu kecemasan investor terhadap konflik Iran dan penantian data inflasi Amerika Serikat periode Mei.

>>> KAI Diskon 30% Tiket Ekonomi Komersial Selama Libur Sekolah 2026

Kontrak berjangka untuk indeks saham di Jepang, Hong Kong, dan Korea Selatan menunjukkan tren negatif.

Sementara itu, kontrak berjangka saham AS juga terkoreksi tipis setelah indeks S&P 500 bergerak fluktuatif dan ditutup sedikit lebih rendah pada Selasa.

Indeks Nasdaq 100 merosot 1,1% akibat rotasi dana keluar dari sektor teknologi yang sebelumnya menjadi penopang reli pasar.

Konflik Iran dan Dampaknya

Ketegangan geopolitik meningkat setelah AS meluncurkan serangan pertahanan diri terhadap Iran.

Langkah ini diambil beberapa jam usai Presiden AS Donald Trump menuduh Teheran menembak jatuh helikopter militer Amerika di dekat Oman.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) sempat turun lebih dari 3% akibat indikasi penurunan permintaan, namun kemudian menguat.

Penurunan harga minyak dari level tertinggi tahunan pada April lalu membantu meredakan kecemasan inflasi.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) turun sekitar tiga hingga empat basis poin di berbagai tenor.

Saham Teknologi Tertekan

Gejolak pada saham teknologi menguji ketahanan pasar yang sebelumnya sempat mencapai rekor tertinggi berkat optimisme AI dan pertumbuhan ekonomi.

>>> DEN Laporkan Hasil Survei Makan Bergizi Gratis ke Presiden

Data ketenagakerjaan AS yang kokoh menimbulkan keraguan terkait kepastian pelonggaran kebijakan moneter Federal Reserve.

Chief Investment Officer Baker Boyer Bank, John Cunnison, mengatakan euforia yang terbentuk selama berbulan-bulan membuat pasar rentan terhadap sentimen negatif.