Genre creature di industri konten Korea terus berkembang. Awalnya didominasi cerita zombie, kini K-creatures meluas ke berbagai makhluk supernatural seperti hantu dan alien.

Serial Netflix "The East Palace" dan film "Hope" menjadi contoh evolusi ini. Keduanya menghadirkan makhluk baru yang berakar pada budaya dan tradisi Korea.

>>> Mobile Suit Gundam RG XARX-ZERO: Anime Baru dari Kenji Kamiyama Diumumkan

"The East Palace" yang tayang perdana 17 Juli mengikuti Gucheon (Nam Joo-hyuk) yang bisa menjelajahi dunia roh, dan dayang Saenggang (Roh Yoon-seo) yang menyembunyikan rahasia.

Dipanggil raja (Cho Seung-woo), mereka menyelidiki kutukan misterius di Istana Timur.

Sementara itu, "Hope" yang tayang di bioskop pada 15 Juli berpusat pada Beom-seok, kepala kantor administrasi kecil dekat Zona Demiliterisasi.

Ia mendapat laporan kemunculan harimau, dan desa pun dilanda kepanikan.

Evolusi K-Creatures dan Daya Tarik Global

Genre creature menjadi salah satu bidang paling kompetitif di pasar konten global. Cerita creature Korea perlahan meraih pengakuan internasional.

Dimulai dari film "Train to Busan" dan serial Netflix "Kingdom", fenomena K-creature meluas lewat "Sweet Home", "Hellbound", dan baru-baru ini film "Colony".

K-zombie khususnya mendapat sambutan antusias dari penonton global.

Dalam produksi Korea, zombie, monster, dan hantu bukan sekadar alat horor. Mereka adalah simbol manifestasi keinginan manusia yang ekstrem.

Di "Sweet Home", konsep bahwa keinginan mengubah manusia menjadi monster mengangkat cerita melampaui thriller bertahan hidup.

Penonton lebih takut pada manusia daripada monster, karena egoisme, solidaritas, dan pengorbanan menjadi fokus narasi.

Netflix "The East Palace" memperluas tradisi ini. Berlatar Dinasti Joseon, serial ini memadukan intrik istana, horor okultisme, dan fantasi creature.