Tim juga mendapat suntikan tenaga baru dari pemain naturalisasi seperti Nguyen Filip, Patrik Le Giang, Jason Pendant Quang Vinh, dan Xuan Son.

Kesuksesan gemilang di Piala AFF membantu pelatih Kim Sang-sik mendapatkan kembali kepercayaan penggemar setelah masa krisis di bawah pendahulunya.

Ia berhasil mengubah tim yang kehilangan semangat menjadi kekuatan yang bersatu dan pantang menyerah.

>>> Kylian Mbappe Akui Tak Pernah Tonton Ulang Final Piala Dunia 2022

Namun, para ahli percaya bahwa mengalahkan rival tradisional seperti Thailand dan Malaysia hanyalah pengulangan kejayaan masa lalu.

Kisah epik sesungguhnya yang perlu ditulis Kim terletak di Piala Asia 2027.

"Golden Star Warriors" akan berada di grup yang menantang bersama Korea Selatan, UEA, dan Yaman.

Ini menjadi ujian berat serta menuntut pola pikir taktis yang jauh melampaui turnamen regional.

Sejarah menunjukkan bahwa garis pemisah antara Asia Tenggara dan sepak bola Asia selalu sangat tajam.

Thailand dan Indonesia masih berjuang untuk menemukan tempat mereka di panggung terbesar benua ini.

Sebaliknya, Vietnam telah menorehkan namanya dengan mencapai delapan besar dua kali pada edisi 2007 dan 2019.

Kesuksesan pada tahun 2019 di bawah pelatih Park Hang-seo merupakan petunjuk penting bagi penerusnya.

Untuk menembus rintangan tersebut, pelatih Kim Sang-sik perlu menciptakan kembali gaya permainan serangan balik dan pressing modern.

Gaya ini membantu Vietnam membuat Jepang kesulitan mempertahankan skor di perempat final tujuh tahun lalu.

Disiplin yang kuat dan semangat membara adalah formula standar yang perlu diaktifkan kembali oleh skuad asuhan Kim Sang-sik.

Perbedaan terbesar antara skuad saat ini dan era sebelumnya adalah keragaman pemain.