>>> Komisi IX DPR Minta Pemerintah Kaji Mendalam Penyesuaian Iuran JKN PBI

Namun, mekanisme di wilayah tersebut tidak seluruhnya merupakan proses upwelling pantai klasik.

Hujan Masih Berpotensi Terjadi

Kondisi awal upwelling tahun ini berlangsung di tengah perkembangan musim kemarau di Indonesia bagian selatan.

Menurut BMKG, dominasi massa udara kering akibat Monsun Australia menyebabkan kelembapan udara berkurang dan pembentukan awan menjadi lebih terbatas.

Meski demikian, BMKG mengingatkan bahwa hujan dengan intensitas ringan hingga lebat masih berpotensi terjadi akibat dinamika atmosfer regional.

Beberapa pemicunya meliputi aktivitas Gelombang Kelvin, Gelombang Rossby Ekuatorial, serta beberapa sirkulasi siklonik.

Dalam periode 9-15 Juni 2026, BMKG mengimbau masyarakat tetap mewaspadai potensi hujan lebat yang disertai petir dan angin kencang di sejumlah wilayah, meskipun sebagian daerah telah memasuki musim kemarau.

Potensi Dukung Perikanan

Widodo mengatakan hasil analisis BRIN menginterpretasikan kondisi awal Juni 2026 sebagai fase awal (onset) upwelling musim timur dengan pusat aktivitas di selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Laut Sawu, dan Laut Timor.

"Upwelling yang mulai terdeteksi pada awal Juni ini perlu terus dipantau melalui observasi suhu permukaan laut, salinitas, kecepatan arus vertikal, nutrien, klorofil, dan angin permukaan.

Pemantauan berkelanjutan akan membantu memahami perkembangan fenomena ini sekaligus mendukung pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan secara lebih adaptif," kata Widodo.

Temuan dari BRIN ini sejalan dengan hasil penelitian terdahulu dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

Studi UGM menunjukkan puncak upwelling di perairan selatan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara umumnya terjadi pada Agustus.

Fase puncak tersebut biasanya ditandai dengan meluasnya area suhu permukaan laut yang lebih dingin dan meningkatnya konsentrasi klorofil-a.

>>> Luhut: Program Makan Bergizi Gratis Buka Banyak Lapangan Kerja Baru

Peningkatan produktivitas perairan pada periode tersebut berpotensi besar mendukung hasil tangkapan nelayan di wilayah selatan Indonesia.