Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai memberikan tekanan berat pada industri farmasi nasional. Ketergantungan impor bahan baku obat yang mencapai 80 persen menjadi faktor utama.

Direktur Utama PT Bio Farma (Persero) Shadiq Akasya menyampaikan kekhawatiran tersebut dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (9/6/2026).

>>> Indonesia dan Singapura Sepakati Penguatan Kerja Sama Ekonomi Enam Sektor

"Kami juga agak waswas dengan kondisi seperti ini," ujarnya saat merincikan situasi keuangan terkini perusahaan.

Penetapan harga pokok produksi awal BUMN farmasi ini mengacu pada proyeksi kurs di kisaran Rp16.000 hingga Rp16.500 per dolar AS.

Namun, realisasi pergerakan mata uang asing telah melonjak jauh di luar batas aman.

"Dari pemegang saham, dari DAM [Danantara Asset Management] sendiri punya patokan itu sekitar Rp17.800, yang notabene sekarang saja sudah terlewati Rp18.400 per hari kemarin itu," tutur Shadiq.

Kenaikan beban operasional tersebut coba diredam manajemen melalui mekanisme lindung nilai alami atau natural hedging dengan mengoptimalkan devisa hasil ekspor.

Saat ini, porsi pendapatan ekspor korporasi menyumbang 38 persen dari total penjualan yang mencakup lebih dari 150 negara tujuan.

Sisa pendapatan perusahaan sebesar 62 persen masih bersandar pada pasar domestik, termasuk pasokan untuk Kementerian Kesehatan dan pihak swasta.

>>> Jelang Piala Dunia, AS Batalkan Tiket Pertandingan untuk Fans Iran

Strategi lain yang diterapkan adalah mempertahankan simpanan likuiditas dalam bentuk mata uang dolar AS demi mengamankan transaksi impor harian.

"Kami tertekan enggak? Pasti tertekan dengan kondisi yang sekarang ini.

Jadi kami lakukan dengan cara itu," jelas Shadiq.

Mengenai dampak langsung ke konsumen, manajemen tidak menutup kemungkinan adanya penyesuaian harga jual produk obat di pasar dalam waktu dekat.

Kendati demikian, kalkulasi mengenai persentase kenaikan harga masih belum diputuskan karena fluktuasi yang masih dinamis.

Langkah koreksi internal kini tengah disiapkan korporasi untuk menyelaraskan kondisi finansial dengan realitas pasar keuangan saat ini.

Penyesuaian anggaran difokuskan pada sektor pengeluaran dan proyeksi keuntungan bersih tanpa mengubah target pendapatan.

>>> Bengkel Umum Kini Mampu Perbaiki Motor Listrik, Kendala Utama di Bodi

"Selayaknya ada revisi. Dari sisi revenue mungkin tidak revisi tetapi cost sama bottom line itu harusnya ada revisi," tambah Shadiq.