Jauh sebelum penciptaan Nabi Adam AS, terjadi dialog mendalam antara Allah SWT dan para malaikat. Momen ini menjadi salah satu peristiwa penting yang diabadikan dalam Al-Qur'an.

Allah SWT menyampaikan rencana-Nya untuk menciptakan seorang khalifah di muka bumi. Para malaikat pun merespons dengan pertanyaan yang sarat makna.

>>> UMY Alami Penurunan Jumlah Pendaftar Mahasiswa Baru Sejak 2022

Pertanyaan Malaikat dalam Surah Al-Baqarah Ayat 30

Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi."

Para malaikat bertanya, "Apakah Engkau hendak menjadikan di sana makhluk yang akan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah, sedangkan kami senantiasa bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?"

Allah SWT menjawab, "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." Ayat ini menjadi landasan utama dalam memahami hakikat kemanusiaan dan fungsi kekhalifahan.

Tujuan Pertanyaan Para Malaikat

Pertanyaan malaikat bukanlah bentuk penolakan atau pembangkangan. Mereka adalah makhluk yang taat dan tidak pernah membantah perintah Allah.

Menurut Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-Azhim, dialog ini bertujuan untuk memahami hikmah di balik penciptaan manusia.

Malaikat ingin mengerti tujuan kehadiran makhluk yang memiliki potensi merusak.

Sikap malaikat tetap menunjukkan adab yang tinggi. Mereka tidak menilai penciptaan sebagai kesalahan, melainkan memohon penjelasan atas perkara yang belum dipahami.

Asal Pengetahuan Malaikat tentang Karakter Manusia

Para ulama tafsir merumuskan empat pandangan utama mengenai cara malaikat mengetahui potensi buruk manusia. Pertama, dari pengalaman masa lalu terhadap bangsa jin yang mendiami bumi sebelumnya.

Riwayat dari Abdullah bin Abbas dan Abdullah bin Umar menyebutkan bahwa bangsa jin kerap berperang dan menumpahkan darah.

Ibnu Katsir menuliskan bahwa Allah mengutus pasukan malaikat untuk mendesak jin yang merusak.