Pemerintah memastikan rencana ekspor listrik ke Singapura belum dapat direalisasikan pada tahun ini. Penyebabnya adalah kesiapan infrastruktur yang masih belum memadai.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pembangunan fasilitas penunjang membutuhkan waktu setidaknya satu hingga satu setengah tahun.

>>> Polri Tetapkan Biaya Penerbitan SIM A Baru, Ini Rinciannya

"Tidak (bisa dilakukan tahun ini).

Bangun fasilitasnya butuh waktu setidaknya 1 sampai 1,5 tahun untuk diimplementasikan," ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta Pusat, Selasa (9/6/2026).

Evaluasi teknis masih terus dilakukan oleh kementerian terkait untuk mematangkan proyek tersebut. Kerja sama ini diharapkan segera memasuki tahap finalisasi setelah adanya kesepakatan sebelumnya.

"Saya pikir untuk hal ini, kami masih evaluasi dengan Menteri ESDM.

Harapannya, saat pertemuan pemimpin tadi, kita bisa finalisasi implementasi dari MoU yang sudah ditandatangani tahun lalu," tambah Airlangga.

>>> Sooyoung SNSD dan Jung Kyung Ho Akhiri Hubungan Setelah 14 Tahun Bersama

Komitmen 3 GW dan Investasi Besar

Proyek ini sebelumnya telah disepakati kedua negara dengan target total pasokan mencapai 3 gigawatt (GW).

Komitmen ekspor diumumkan dalam forum Leaders' Retreat yang dihadiri Presiden Prabowo Subianto dan PM Singapura Lawrence Wong.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut total investasi proyek ini diperkirakan mencapai US$ 10 miliar, di luar kawasan industri.

Angka tersebut mencakup pembangunan jaringan transmisi dan fasilitas utama.

>>> Alpukat vs Mangga: Mana yang Lebih Baik untuk Diet dan Kesehatan?

"Total investasinya minimal dalam perhitungan kami yang sudah kami bangun ini sekitar US$ 10 miliar, minus kawasan industri," kata Bahlil usai pertemuan antara Prabowo dan Lawrence Wong, Senin (16/6/2025).