Deteksi Dini Wabah Piala Dunia 2026 Lewat Air Limbah
Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko diperkirakan akan dihadiri lebih dari 6,5 juta penggemar sepak bola dari 100 negara lebih.
Dengan 104 pertandingan, risiko penularan penyakit menular menjadi sangat tinggi.
>>> Maxim Indonesia Hormati Aturan Baru Kemendag soal PMSE
Untuk menjaga keamanan publik, tim khusus ahli kesehatan masyarakat di Washington DC membentuk pos komando epidemiologi di laboratorium Georgetown University.
Mereka bertugas menyaring air limbah dan memantau obrolan di media sosial sepanjang musim panas.
Tim ini dipimpin oleh Rebecca Katz, Direktur Pusat Sains dan Keamanan Kesehatan Global Georgetown University. Mereka memanfaatkan analisis air limbah tingkat lanjut menggunakan metode pengurutan DNA dan RNA.
Teknologi ini mampu mendeteksi untaian genetik berbagai mikroba berbahaya di saluran pembuangan kota penyelenggara secara instan tanpa perlu membiakkannya di laboratorium.
"Metode ini sangat kuat.
Kami menerima data langsung dari situs pengumpulan limbah di AS dan Kanada, serta berbagai sumber pemantauan kesehatan di tiga negara tuan rumah," ujar Rebecca Katz.
>>> KPK Buka Peluang Jerat Silmy Karim dengan Pasal TPPU
Mendeteksi mikroorganisme penyebab penyakit di air limbah dapat menjadi alarm peringatan dini sebelum wabah meledak.
Hal ini memberi waktu bagi rumah sakit untuk bersiap dan publik untuk melakukan pencegahan.
Dari Ancaman Ebola hingga Demam Berdarah
Meskipun perhatian media global tertuju pada krisis virus Ebola di Afrika, Katz menegaskan risiko Ebola bagi masyarakat umum di Amerika Utara sangat rendah.
Tim nasional dan staf pendukung dari Republik Demokratik Kongo telah menjalani karantina pencegahan di Belgia sebelum bertolak ke AS.
Fokus utama tim epidemiologi justru pada penyakit yang sedang melonjak di wilayah tuan rumah, seperti campak dengan kasus di AS mendekati rekor tertinggi sekitar 2.000 kasus.
>>> Cita Citata Ajukan Gugatan Cerai terhadap Didi Mahardika
Selain itu, ada ancaman virus Dengue dan Cikungunya yang dibawa pelancong dari wilayah tropis dan berpotensi disebarkan nyamuk lokal.
Update Terbaru
Pemimpin Tertinggi Afghanistan Larang PNS Gunakan Ponsel Pintar
Selasa / 09-06-2026, 16:05 WIB
Tiga Emiten Cairkan Dividen Saham Tahun Buku 2025 Hari Ini
Selasa / 09-06-2026, 16:05 WIB
4 HP Midrange Baterai Jumbo dengan Bod Tipis dan Ringan, Nyaman Digenggam
Selasa / 09-06-2026, 16:04 WIB
Grab Tambah Armada Kendaraan Listrik untuk Tekan Biaya Operasional
Selasa / 09-06-2026, 16:04 WIB
Lenovo Rilis Perangkat Edisi Terbatas FIFA World Cup 2026 di Indonesia
Selasa / 09-06-2026, 16:04 WIB
Cara Mencairkan JHT BPJS Ketenagakerjaan Tanpa Paklaring 2026
Selasa / 09-06-2026, 16:04 WIB
Lionel Scaloni Pastikan Lionel Messi Tampil Lawan Islandia
Selasa / 09-06-2026, 16:04 WIB
Lenovo Rilis Laptop dan Tablet Edisi Terbatas FIFA World Cup 2026
Selasa / 09-06-2026, 16:00 WIB
Bulog Usulkan Program Beraskita Premium untuk Redam Lonjakan Harga Beras
Selasa / 09-06-2026, 16:00 WIB
Kenaikan BI Rate Berpotensi Tekan Sektor Sensitif Pendanaan
Selasa / 09-06-2026, 15:59 WIB
Ekspor Elektronik Malaysia Diprediksi Tembus 800 Miliar Ringgit
Selasa / 09-06-2026, 15:57 WIB
182 Serangan Siber Per Detik Ancam Indonesia, ITSEC Asia Soroti Ketahanan Digital
Selasa / 09-06-2026, 15:57 WIB
Veda Ega Pratama Optimistis Rebut Podium di Moto3 Prancis 2026
Selasa / 09-06-2026, 15:56 WIB
Joey Pelupessy Evaluasi Duet dengan Ivar Jenner di Lini Tengah Timnas Indonesia
Selasa / 09-06-2026, 15:56 WIB






