Nilai tukar rupiah terus tertekan oleh penguatan dolar AS. Bahkan, dolar sempat menembus rekor tertinggi sepanjang masa secara intraday.

Berdasarkan data Bloomberg, dolar AS berada di level Rp18.201 pada Senin (8/6/2026) sekitar pukul 13.18 WIB.

>>> Krisis Memori Picu Kenaikan Harga GPU Kelas Menengah

Angka itu naik 0,91 persen dari posisi awal perdagangan di Rp18.106,5.

Pelemahan rupiah ini berpotensi memberikan tekanan besar pada sistem kesehatan. Dampaknya bisa dirasakan oleh fasilitas medis, penyedia layanan, hingga masyarakat sebagai konsumen akhir.

Empat Dampak Utama Menurut Pakar

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama, mengidentifikasi setidaknya empat dampak krusial.

Pertama, harga obat berpotensi naik karena sebagian besar bahan baku obat masih diimpor.

>>> Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga Acuan Jadi 5,5 Persen

"Hampir 90 persen bahan baku obat kita masih impor," kata Prof Tjandra dalam keterangannya, Selasa (9/6/2026).

Kedua, harga reagen dan bahan diagnostik seperti cartridge dan test strip juga terancam naik. Sebagian besar produk ini juga masih bergantung pada impor.

Dampak ketiga adalah kenaikan harga alat kesehatan, terutama yang besar dan canggih. "Alkes yang masih banyak diimpor ini berpotensi membebani masyarakat yang memerlukan pemeriksaan di rumah sakit," ujarnya.

Keempat, tekanan finansial akibat kenaikan dolar bisa memicu stres dan gangguan kesehatan mental. Dalam jangka panjang, daya beli masyarakat terhadap makanan bergizi dan pelayanan kesehatan juga terancam menurun.

>>> Harga Emas Perhiasan di Raja Emas, Hartadinata, dan Laku Emas 9 Juni 2026 Melonjak

Prof Tjandra berharap situasi ekonomi segera membaik. "Bukan hanya baik bagi ekonomi, tetapi juga bagi kesehatan bangsa," pungkasnya.