PT Solusi Environment Asia Tbk (SOFA) resmi terlibat dalam proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) yang diinisiasi Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).

Keterlibatan ini dilakukan melalui anak usaha PT Ananta Energi Asia (AEA) yang menandatangani akta jual beli saham dengan perusahaan China, Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd. beserta afiliasinya.

>>> TOP 40 Acara TV Dengan Rating Terbaik Hari ini 10 Juni 2026 ada Turun Ranjang Kembali Dikalahkan Arisan

Berdasarkan keterbukaan informasi pada Selasa (9/6/2026), AEA memegang porsi kepemilikan saham sebesar 10% pada dua perusahaan konsorsium yang mengembangkan PSEL Denpasar Raya dan Bogor Raya.

Direktur Utama SOFA Denny Rizal menyatakan langkah ini merupakan realisasi komitmen perseroan untuk melakukan diversifikasi bisnis di bidang energi baru terbarukan.

Masuknya SOFA merupakan tindak lanjut dari keputusan PT Danantara Investment Management (DIM) pada Mei 2026 yang menyetujui penambahan AEA sebagai mitra lokal dalam konsorsium.

Saat ini, manajemen SOFA masih menunggu proses administratif berupa persetujuan dan penerimaan pemberitahuan perubahan anggaran dasar dari Kementerian Hukum terkait restrukturisasi pemegang saham konsorsium.

Zhejiang Weiming sebelumnya telah ditunjuk Danantara sebagai mitra pengembangan untuk dua dari total empat proyek PSEL tahap pertama.

>>> Wasit Somalia Ditolak Masuk AS, Batal Pimpin Piala Dunia 2026

Kebijakan Danantara mewajibkan operator internasional bermitra dengan perusahaan lokal Indonesia demi transfer teknologi dan koordinasi dengan pemerintah daerah.

Zhejiang Weiming merupakan salah satu raksasa pengolahan sampah menjadi energi di China dengan produksi listrik mencapai 4,62 miliar kWh pada 2025.

Bagi SOFA, proyek ini mempertegas transformasi bisnis setelah berganti nama dari PT Boston Furniture Industries Tbk untuk fokus pada sektor energi dan lingkungan.

Sebelumnya, SOFA sempat berkompetisi dalam tender proyek waste-to-energy Danantara lewat konsorsium bersama Hunan Construction Engineering Group (China) dan Kintan Usahasama Sdn.

Bhd. (Malaysia).

>>> 50 Pertanyaan Edukasi untuk Cegah Bullying di Sekolah dan Lingkungan

Dengan kepemilikan saham 10% di Denpasar dan Bogor, perusahaan kini resmi mengamankan posisi dalam proyek strategis nasional pengolahan sampah menjadi energi listrik.