Khutbah Jumat 12 Juni 2026 Mengajak Umat Menjadikan Amal Saleh sebagai Bekal Abadi

Kehidupan yang tenang dan masa depan yang baik menjadi harapan hampir setiap orang. Untuk mewujudkannya, banyak waktu dihabiskan untuk bekerja, mengembangkan usaha, menata karier, hingga mengejar berbagai target kehidupan.

Islam tidak melarang ikhtiar tersebut. Namun, di balik kesibukan mengejar kebutuhan dunia, ada satu perkara yang kerap luput dari perhatian, yakni bekal yang akan dibawa ketika kehidupan di dunia berakhir.

Dalam khutbah Jumat edisi 12 Juni 2026, jamaah diajak merenungkan kembali nilai amal saleh sebagai investasi yang tidak akan pernah hilang. Berbeda dengan harta dan jabatan yang hanya bertahan selama hidup di dunia, amal saleh akan terus menyertai manusia ketika menghadap Allah SWT.

>>> Huawei: Pemblokiran Chip AS Justru Percepat Inovasi Semikonduktor China

Ketakwaan Menjadi Pondasi Kehidupan

Pada bagian awal khutbah, khatib mengingatkan pentingnya menjaga ketakwaan melalui ketaatan kepada Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan disebut sebagai jalan menuju keselamatan di dunia sekaligus kebahagiaan di akhirat.

Kesibukan modern sering membuat manusia larut dalam urusan pekerjaan, bisnis, dan pencapaian pribadi. Banyak orang mengukur keberhasilan dari jumlah harta, kedudukan, maupun pengaruh yang dimiliki.

Padahal, ukuran keberhasilan menurut Allah SWT tidak selalu sama dengan ukuran yang digunakan manusia.

Allah SWT berfirman:

وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

Wa mal-hayatud dunya illa mata'ul ghurur.

Artinya: "Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (QS Ali Imran: 185)

Dunia Adalah Tempat Menanam

Khutbah menegaskan bahwa Islam tidak menghalangi umatnya untuk menjadi pribadi yang berhasil secara ekonomi. Umat justru didorong untuk bekerja, berdagang, bertani, dan menghasilkan karya yang bermanfaat.