Artinya: "Demi masa. Sungguh manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran." (QS Al-'Ashr: 1-3)

Melalui ayat tersebut, jamaah diajak memahami bahwa kehilangan kesempatan beramal merupakan kerugian yang jauh lebih besar dibanding kehilangan harta benda.

Tidak sedikit orang memiliki kekayaan melimpah namun miskin amal. Sebaliknya, ada yang hidup sederhana tetapi memperoleh kemuliaan karena keikhlasan dalam berbuat baik.

Amal yang Tetap Mengalir Setelah Wafat

Pada bagian akhir khutbah, jamaah diajak melakukan muhasabah terhadap usia, harta, dan ilmu yang telah diberikan Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ

Idza maata ibnu Adama inqatha'a 'amaluhu illa min tsalats.

Artinya: "Apabila anak Adam meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya." (HR Muslim)

Hadis tersebut menjadi pengingat bahwa investasi terbaik adalah amal yang manfaatnya terus berlanjut meski seseorang telah meninggal dunia.

Khutbah ditutup dengan ajakan untuk tidak menunda taubat, sedekah, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan berbagai bentuk kebaikan lainnya selama kesempatan hidup masih diberikan oleh Allah SWT.