Meski demikian, dunia tidak boleh menjadi tujuan akhir. Kehidupan di dunia diibaratkan sebagai ladang tempat menanam, sedangkan akhirat merupakan masa memanen hasil dari apa yang telah dikerjakan.

Orang yang beruntung bukan hanya mereka yang mampu mengumpulkan kekayaan, melainkan mereka yang dapat mengubah aktivitas sehari-hari menjadi amal bernilai ibadah.

Investasi yang Tidak Pernah Merugi

Konsep investasi dalam Islam tidak semata berkaitan dengan keuntungan materi. Amal saleh, sedekah, dan berbagai bentuk kebaikan disebut sebagai investasi yang balasannya dijamin oleh Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

مَنْ ذَا الَّذِيْ يُقْرِضُ اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضٰعِفَهُ لَهٗ اَضْعَافًا كَثِيْرَةً

Man dzalladzi yuqridhullaha qardhan hasanan fayudha'ifahu lahu ad'afan katsirah.

Artinya: "Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah sebagai pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan balasannya dengan berlipat ganda." (QS Al-Baqarah: 245)

Ayat tersebut dipahami para ulama sebagai dorongan untuk memperbanyak infak, sedekah, membantu sesama, dan berbagai bentuk amal kebajikan lainnya.

Jika perdagangan dunia bisa mendatangkan keuntungan maupun kerugian, maka amal yang dilakukan dengan ikhlas tidak akan sia-sia. Setiap bantuan kepada orang lain, langkah menuju masjid, hingga senyum yang diberikan kepada sesama memiliki nilai di sisi Allah SWT.

Kerugian Terbesar Adalah Kehilangan Kesempatan Beramal

Khutbah juga mengangkat pesan dalam Surat Al-'Ashr yang menegaskan bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, saling mengingatkan dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.

Allah SWT berfirman:

وَالْعَصْرِ ۝ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ ۝ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Wal-'ashr. Innal insaana lafii khusr. Illalladziina aamanuu wa 'amilush shaalihati watawaashau bil-haqqi watawaashau bish-shabr.