Populasi motor listrik di Indonesia terus bertambah, mendorong peningkatan kebutuhan layanan perawatan dan perbaikan.

Namun, tidak semua pemilik kendaraan ramah lingkungan ini memilih bengkel resmi milik pabrikan. Sebagian justru lebih memilih bengkel umum yang memiliki spesialisasi kendaraan listrik.

>>> TVS Siapkan Skutik Premium 160 cc untuk Saingi Aerox dan Vario

Abdulah, pemilik bengkel motor listrik Dolland Motor Electric di Bekasi, Jawa Barat, mengungkapkan sejumlah faktor yang mendorong konsumen beralih ke bengkel independen.

"Ada yang bilang antreannya panjang banget. Pagi daftar, kemungkinan digarap sore.

Ada juga yang aftersales-nya tidak bisa diandalkan," ujar Abdul.

Menurut Abdul, persoalan layanan purna jual masih menjadi tantangan di industri motor listrik yang relatif baru.

Fokus sebagian pelaku industri selama beberapa tahun terakhir lebih tertuju pada penjualan unit dibandingkan penguatan layanan setelah pembelian.

>>> Pemprov DKI Jakarta Gelar Operasi Penertiban Parkir Liar di 15 Titik

"Dari 2019, mereka hanya fokus jualan. Aftersales tidak dipikirkan," katanya.

Meski begitu, Abdul mengakui ada beberapa merek dengan layanan purna jual cukup baik, seperti Alva dan Polytron.

"Tapi oke-nya itu di antara yang tidak oke, bukan yang oke di antara yang oke," ujarnya.

Konsumen akhirnya mencari tempat perawatan yang praktis dan cepat, terutama jika motor digunakan setiap hari.

Faktor lain adalah fleksibilitas bengkel umum dalam menangani kerusakan, termasuk komponen yang belum tentu ditangani melalui garansi pabrikan.

>>> Modifikasi Motor Listrik Entry Level Laris untuk Dongkrak Jarak dan Kecepatan

"Banyak yang akhirnya lari ke bengkel umum. Sejarahnya seperti itu," kata Abdul.