Sejumlah indeks berbasis environmental, social, and governance (ESG) di Bursa Efek Indonesia mencatatkan koreksi tajam sepanjang tahun berjalan.

Penurunan kinerja melanda indeks seperti IDX ESG Leaders, Sri-Kehati, dan ESG Sector Leaders IDX KEHATI.

>>> Grup K-Pop (G)I-DLE Rilis Album Mini We Made pada 6 Juli 2026

Menurut analis, koreksi ini justru membuat valuasi saham berkelanjutan menjadi lebih murah bagi penanam modal.

Peluang di Tengah Tekanan Global

"Koreksi yang dalam ini mencerminkan tekanan global, namun sekaligus membuat valuasi saham-saham ESG menjadi jauh lebih atraktif, khususnya bagi investor jangka panjang," ujar David Kurniawan, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT).

Memasuki paruh kedua tahun ini, pergerakan indeks ESG diproyeksikan akan memasuki fase konsolidasi untuk menemukan titik keseimbangan baru di pasar domestik.

Beberapa faktor penggerak seperti stabilitas nilai tukar rupiah, kejelasan suku bunga, laporan keuangan emiten, bursa karbon, hingga insentif hijau pemerintah dinilai mampu memicu pemulihan.

Dari perspektif internasional, tren penanaman modal pada sektor ramah lingkungan diperkirakan tetap memiliki daya tarik yang kuat untuk periode ke depan.

>>> Himbara Catat Pertumbuhan Kredit Rata-Rata Dua Digit

"Komitmen terhadap prinsip ESG bersifat struktural. Meski dalam jangka pendek investor lebih selektif, minat terhadap aset berkelanjutan tidak akan pudar," jelas David.

Para pemodal internasional kini lebih selektif dengan mengutamakan emiten yang memiliki fundamental kokoh, aliran kas yang sehat, serta tata kelola perusahaan yang baik.

Langkah dekarbonisasi dan transisi energi di dalam negeri juga dipandang strategis untuk mendatangkan kembali modal asing saat kondisi pasar mulai membaik.

"Emiten yang memiliki roadmap transisi energi yang jelas akan menjadi incaran investor asing ketika sentimen risk-off mulai mereda," tambah David.

Saham kapitalisasi besar di sektor perbankan dan telekomunikasi, bersama emiten energi terbarukan serta logam dasar seperti nikel dan tembaga, diproyeksikan menjadi penopang utama pemulihan indeks.

>>> Apple Perluas Kemampuan App Store dengan Alat Pemasaran, Langganan, dan Penemuan Baru

Di tengah volatilitas pasar, pelaku pasar disarankan melakukan pembelian secara bertahap, menjaga likuiditas, menghindari transaksi margin, serta mencermati saham komoditas transisi energi seperti PT Vale Indonesia Tbk (INCO).