Terbaru, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa pihaknya akan melakukan relaksasi terhadap target RKAB batu bara sepanjang 2026.

"Kita selalu mengikuti perkembangan dengan kita akan melakukan relaksasi [RKAB] yang terukur. Artinya kalau harganya bagus kita akan meningkatkan produksi.

Kalau harganya mulai mentok kita juga akan membuat kebijakan agar supply and demand itu bisa kita jaga," ungkap Bahlil dalam konferensi pers di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (8/6/2026).

Salah satu alasan untuk melakukan relaksasi menurut Bahlil adalah terkait pergerakan geopolitik akibat ketegangan di Timur Tengah yang mempengaruhi fluktuasi harga komoditas global.

"Maka idealnya pemerintah atau pengusaha atau rakyat pun berkepentingan untuk harga yang bagus, produksi kita juga harus banyak.

Supaya pengusahanya untung, negara untung, rakyatnya juga bisa mendapat dampak positif," ungkap Bahlil.

Berdasarkan catatan Kementerian ESDM, hingga April 2026 Indonesia telah memproduksi 229 juta ton batu bara atau sekitar 38,2% dari kuota produksi sekitar 600 juta ton.

Dari besaran itu, sekitar 145 juta ton dari produksi batu bara Indonesia diserap untuk pasar ekspor.

>>> Harga Emas Bergerak Terbatas Akibat Keraguan Gencatan Senjata Iran-Israel

Sisanya, sekitar 84 juta ton, digunakan untuk memenuhi kewajiban pasok domestik atau domestic market obligation (DMO).