Kinerja ekspor China kembali mengejutkan pasar.

Pada Mei 2026, nilai ekspor Negeri Tirai Bambu tercatat melonjak 19,4 persen secara tahunan (year on year/YoY), melampaui perkiraan para ekonom yang memprediksi kenaikan sekitar 15 persen.

>>> Saham Intel Melonjak 13% Usai Google Dikabarkan Pesan 3 Juta Chip AI

Data otoritas bea cukai China yang dirilis Selasa (9/6/2026) menunjukkan akselerasi signifikan dibandingkan pertumbuhan April yang sebesar 14,1 persen.

Lonjakan ini didorong oleh permintaan global yang kuat terhadap produk semikonduktor dan perangkat berbasis kecerdasan buatan (AI).

Selain itu, aktivitas pengiriman barang meningkat tajam karena importir global melakukan pembelian lebih awal (front-loading) untuk mengamankan pasokan sebelum biaya logistik dan energi meroket akibat ketegangan di Timur Tengah.

Sektor impor China juga mencatat pertumbuhan solid.

Impor naik 27,4 persen secara tahunan pada Mei 2026, lebih tinggi dari kenaikan April sebesar 25,3 persen dan melampaui prediksi pasar di level 25 persen.

Meski kinerja ekspor kuat, beberapa indikator menunjukkan potensi perlambatan.

Data manufaktur China pada Mei 2026 mengindikasikan penurunan tajam pada pesanan ekspor baru, setelah pada April sempat mencapai level tertinggi dalam dua tahun.

Pelaku logistik melaporkan lonjakan aktivitas karena korporasi asing bergegas mengamankan suplai. Namun, setelah persediaan dinilai mencukupi, pembeli diperkirakan mulai membatasi pemesanan sambil memantau perkembangan gencatan senjata.

>>> Acer Swift Edge 14 AI Resmi di Indonesia, Laptop Tipis dengan Bobot Hanya 990 Gram

Aktivitas ekspor yang melonjak membantu perekonomian China yang bernilai sekitar US$ 20 triliun meraih pertumbuhan kuartal pertama di atas perkiraan.

Namun, para analis melihat tanda-tanda perlambatan dalam beberapa bulan terakhir.