>>> Prospek Cadangan Devisa Indonesia Diprediksi Bottoming Out dan Rebound pada Paruh Kedua 2026

Kenaikan impor komoditas tersebut merefleksikan peningkatan produktivitas pada sektor manufaktur di dalam negeri.

Catatan Ekonom: Pertumbuhan Masih Tipis

Kendati menunjukkan tren positif, kalangan ekonom memberikan catatan kritis terhadap capaian pertumbuhan yang masih berada di bawah level 1% ini.

Angka tersebut dinilai belum cukup kuat untuk mengonfirmasi pemulihan ekonomi yang solid.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufikurahman menyoroti laju penerimaan kepabeanan dan cukai yang tertinggal dari sektor perpajakan serta PNBP.

Menurutnya, ketimpangan ini perlu mendapatkan perhatian serius dari pemerintah.

Rizal menjelaskan bahwa di tengah pertumbuhan dua digit pada sektor perpajakan dan PNBP, keterbatasan kenaikan kepabeanan dan cukai menjadi sinyal kelesuan.

Hal itu mengindikasikan adanya pelemahan aktivitas pada sektor-sektor utama yang menjadi sumber penerimaan negara.

Dirinya menambahkan bahwa capaian sebesar 0,7% saat ini belum memadai untuk dijadikan dasar proyeksi performa hingga akhir tahun.

Keberlanjutan realisasi penerimaan pada semester II-2026 akan sangat ditentukan oleh faktor pengendali perlambatan saat ini.

Apabila perlambatan bersumber dari penurunan volume impor dan lesunya manufaktur, tekanan terhadap penerimaan kepabeanan dan cukai berpotensi berlanjut.

Sebaliknya, peluang akselerasi pada paruh kedua tahun ini masih terbuka jika pemicu utama berasal dari faktor eksternal.

Faktor luar tersebut meliputi koreksi harga komoditas global, dampak basis tinggi tahun lalu, atau pergeseran peta perdagangan internasional.

>>> Inspirasi 100 Nama Bayi Perempuan Modern Bernuansa Bunga

Dengan situasi ini, dinamika sektor industri dan perdagangan pada semester kedua akan menjadi penentu arah pemulihan ekonomi selanjutnya.