Geliat penerimaan kepabeanan dan cukai nasional mulai menunjukkan sinyal pemulihan setelah sempat tertekan selama beberapa bulan terakhir.

Meskipun demikian, laju pertumbuhan yang masih sangat tipis menandakan aktivitas sektor industri dan perdagangan domestik belum sepenuhnya bangkit.

>>> Saham Telkom Indonesia Melonjak 10,64% Usai Keputusan Dividen Rp 21,9 Triliun

Data Kementerian Keuangan menunjukkan realisasi penerimaan kepabeanan dan cukai hingga Mei 2026 menyentuh angka Rp 123,8 triliun.

Angka ini tumbuh sebesar 0,7% bila dibandingkan dengan perolehan periode yang sama pada tahun lalu yang mencapai Rp 122,9 triliun.

Pencapaian tersebut menjadi titik balik penting setelah performa penerimaan sektor ini sempat berada di zona kontraksi.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai perkembangan ini sebagai indikator positif bagi perekonomian nasional.

"Bea cukai naik 0,7%, sudah positif dua bulan berturut-turut. Nanti akan naik lagi lebih bagus," ujar Purbaya, Jumat (5/6/2026).

Sektor Cukai dan Bea Masuk Dorong Pertumbuhan

Sektor cukai masih memegang peranan sebagai motor penggerak utama dengan sumbangan sebesar Rp 90,4 triliun, atau tumbuh tipis 0,2% secara tahunan.

Di sisi lain, lonjakan signifikan terjadi pada penerimaan bea masuk yang melesat 9,7% hingga mencapai Rp 21,5 triliun.

Kondisi berbeda melanda sektor bea keluar yang masih berada di bawah tekanan.

Penerimaan dari lini ini tercatat sebesar Rp 11,9 triliun, mengalami penyusutan sebesar 8,9% secara tahunan.

Purbaya Yudhi Sadewa menguraikan bahwa penguatan pada pos cukai didorong oleh peningkatan volume produksi hasil tembakau selama kuartal pertama tahun ini.

Fakta tersebut sekaligus menepis anggapan mengenai penurunan produktivitas industri rokok akibat dampak regulasi pemerintah.

Sementara itu, ketahanan kinerja bea masuk dipicu oleh ekspansi aktivitas impor bahan baku serta bahan penolong yang naik 10,67% secara tahunan.